Minggu

HIJRAH

Mendengar kata hijrah, fikiran saya langsung langsung terbang melayang melintasi waktu kembali ke medio tahun 2004. Kala itu saya baru menapaki dunia putih abu-abu. Ya, itu adalah awal saya memasuki jenjang Sekolah Menengah Atas di sebuah Kota di Aceh. Disana pula lah awal saya mengenal kata HIJRAH dan menikmati indahnya awal proses hijrah. Apa itu hijrah?

Kata Hijrah berasal dari bahasa arab, yang berarti meninggalkan, menjauhkan dari dan berpindah tempat. Seperti halnya hijrahnya Rasulullah bersama para sahabat dari Mekah ke Madinah agar dakwah beliau bisa berkembang setelah mandek sekian lama di Mekah karena tekanan dan hambatan dari para kafir Quraish di Mekah. Rasulullah memutuskan hijrah dari mekah ke Madinah. Tempat dimana Islam diterima dengan sukacita dan lapang dada oleh penduduk Madinah. Hijrah dengan tujuan mempertahankan aqidah dan menegakkan risalah Allah dan syariat Islam. Disanalah islam bangkit hingga akhirnya mekkah pun mampu ditundukkan kembali dibawah Panji Islam.

Perintah berhijrah terdapat dalam beberpa ayat Al-Qur’an, antara lain: Qs. Al-Baqarah 2:218).“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berhijrah di jalan Allah, mereka itu mengharpakn rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang mujairin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni;mat) yang mulia. (Qs. Al-An’fal, 8:74)

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan (Qs. At-Taubah, 9:2)

Hijrah harus dilakukan atas dasar niat karena Allah dan tujuan mendapatkan rahmat serta keridhaan Allah. Orang-orang  beriman yang berhijrah dan berjihad dengan niat karena Allah dan tujuan untuk meraih rahmat dan keridhaan Allah, mereka itulah adalah mu’min sejati yang akan memperoleh pengampunan Allah, memperoleh  keberkahan rizki dan kemenangan di sisi Allah. Hijrah dan jihad dapat dilakukan dengan mengorbankan apa yang kita  miliki, termasuk  hartabenda, bahkan jiwa.

Bagi saya pribadi, hijrah adalah proses berubah. Berubah dari buruk menjadi semakin baik.Berubah dari tak ada menjadi ada. Berubah dari buta menjadi terang benderang. Berubah dari tak tahu menjadi semakin tahu, bukannya malah bangga atas ketidaktahuan seperti cerita sang nenek pembaca puisi yang viral itu. 

Saya kecil adalah seorang gadis tomboy yang tidak bisa diam dan sangat suka tantangan. Walaupun saya juara kelas dan juara umum disekolah, tapi pemahaman terhadap ilmu agama bisa dibilang sangat minim. Orangtua saya bukannya tidak memberikan ilmu agama yang memadai buat kami, tapi saya saja yang dulu suka semau gue dan sering mangkir saat ngaji. Ayah dan mamak memang bukan seorang yang alim dan ahli ilmu agama, tapi mereka telah berusaha semaksimal kemampuan mereka mengajarkan saya serta dua saudari saya ilmu agama bahkan dengan mengantarkan kami kepada guru ngaji untuk hal-hal yang tidak mereka kuasai. Tapi, bukannya belajar, saya kecil malah suka kabur saat jam ngaji dan mampir  diam-diam ke rumah tetangga untuk nonton TV. Dari rumah ngaji, sampai sana kabur. Haha...(Astaghfirullahh)

Tamat SD entah kenapa saya malah sangat ingin mondok untuk  memperdalam ilmu agama yang selama ini saya sadari masih sangat minim, tapi niat saya pupus karena ayah  tidak mengizinkan. Beliau khawatir saya tidak bisa mandiri disana. Saya pun terus bertumbuh menjadi gadis manis dirumah dan di sekolah. Setiap pembagian raport, nilai saya selalu bertengger paling atas dan menjadi juara kelas. Tapi, saya merasa kering. Ilmu agama saya tetap segitu-gitu aja walaupun saya ngaji malam hari di balai pengajian dekat rumah. Amal ibadah saya juga sangat memprihatinkan. Jadi ibadah sunnah seperti dhuha, rawatib, dan tahajud, ibadah wajib pun alakadarnya bahkan sering bolong. Menutup aurat pun hanya saat sekolah dan ngaji saja, diluar itu saya tetap gadis tomboy dengan celana gombrong, baju kaos lengan pendek dan rambut kucir yang terhempas kesana kemari saat saya bersepeda atau manjat pohon. Padahal saat itu saya sudah baligh. Alhamdulillah,  Satu hal yang saya tetap terjaga, saya gak pernah bergaul dekat dengan lawan jenis apalagi pacaran seperti teman-temannya saya lainnya. Saya gak suka pacaran. Bagi saya pacaran itu sia-sia, buang-buang waktu dan gak ada manfaat sama sekali. Itu bertahan hingga saya lulus Sekolah menengah pertama dengan nilai terbaik disekolah. Modal nilai terbaik ini mengantarkan saya masuk sekolah  favorit di kota tetangga. Disanalah awal mula saya berjumpa dengan kakak-kakak yang wajahnya teduh, bercahaya dan sangat menenangkan tersebut. Mereka ayu dan anggun. Mereka santun dan berprestasi. Saya jatuh cinta sama mereka. Jatuh cinta pada pandangan pertama,hihi. Saya jatuh cinta dengan pakaian mereka yang sederhana, tertutup dan jilbab yang panjang berjuntai(seperti jilbab tokoh majalah Annida yang dulu ngehits banget dikalangan anak rohis). Pokoknya saya terpesona sama mereka. Adeeem banget lihatnya. Trus, apa saya langsung berubah sempurna sama persis seperti mereka hanya karena saya suka gaya dan akhlak mereka? Ya nggak lah. Saya gak mau berubah seketika tanpa pijakan yang jelas. Tanpa memahami. Tanpa ilmu. Tanpa proses. 

Bismillah. Gayung bersambut, kakak-kakak ayu dan sholihah itu, mengajak saya dan beberapa teman lainnya untuk ngaji bareng, kami biasa menyebutnya liqo. Seminggu sekali kami berkumpul di sekolah untuk ngaji dan saling sharing berbagai macam hal yang dipimpin oleh satu orang mentor yang kami sebut kakak murabbi. Mereka memang bukan ustadzah yang sudah sangat faqih ilmunya. Tapi, mereka berbagi apa yang mereka tahu dan mereka mengamalkannya. Pelan tapi pasti, pelan-pelan saya mulai berubah. Sholat wajib saya sudah gak bolong-bolong lagi, malah bertambah dengan yang sunah. Dhuha dan tahajud udah jadi kebiasaan. Begitu juga puasa sunah. Sesekali kami ifthar jama'i(buka puasa bersama) dirumah atau di kosan salah satu anggota. Kaos lengan pendek mulai berganti jadi kaos lengan panjang dan bergo instan sudah biasa bertengger di kepala setiap keluar pintu rumah ataupun dihadapan non muhrim. Celana gombrong panjang masih setia belum berganti dengan rok atau gamis. Pelan-pelan kaos kaki dan manset mulai setia menemani. Hingga akhirnya bisa menutup aurat dengan sempurna. 

Apakah semua berjalan mulus? Tentu tidak. Tapi, bukan saya namanya jika tak suka tantangan dan rintangan. Rintangan pertama berasal dari orang terdekat saya sendiri, ayah dan almarhum mamak(Allahuyarham). Walaupun mereka  bahagia melihat  perubahan  saya,  sikap saya  lebih santun dan lebih baik, amal ibadah harian semakin  baik, tapi mereka khawatir melihat cara saya berpakaian. Mereka takut saya ikut aliran sesat. Pakaian tertutup penuh dari atas sampai kaki. Buang sampah atau jemur pakaian saja di depan rumah pakai jilbab dan kaos kaki. Beli garam ke warung samping rumah pakai kaos kaki. Tidak mau salaman sama laki-laki yang bukan muhrim, padahal abang sepupu sendiri. Sedangkan, istri Tengku besar di sana saja tak berkaos kaki dan salaman sama semua tamu walaupun bukan muhrim. Begitulah pemikiran mereka. Saya berusaha menjelaskan sepemahaman saya tanpa merasa saya paling tahu dan tidak ingin sok pintar. Pelan tapi pasti, akhirnya mereka terbiasa dengan perubahan saya, malahan saya diberi kepercayaan lebih oleh mereka. Saya boleh nginap ditempat teman, karena mereka yakin saya gak akan macam-macam. Saya boleh pergi ke luar kota dengan teman-teman untuk baksos, yang biasanya susah banget dapat izin dari ayah untuk hal-hal seperti ini. 

Alhamdulillah, inilah sepenggal kisah perjalanan hijrah saya. Dan ini belum berhenti. Hijrah ini tetap berlangsung hingga akhir hayat. Belajar lagi dan belajar terus sehingga mampu berhijrah  menjadi pribadi yang semakin baik dari waktu ke waktu. Hingga detak jantung  berhenti.

Terimakasih kepada Mbak Icha atas tema arisan blog kali ini, sehingga saya bisa menorehkan sedikit catatan proses perjalanan hijrah saya. Ini menjadi  pengingat kembali bagi saya pribadi agar semakin baik dari waktu ke waktu, tidak menjadi manusia yang merugi apalagi celaka. Nastaghfirullahal 'adzhim...

Tips dan Trik mempersiapkan adik baru buat sang Kakak

" Si Kakak sekarang kenapa jadi manja ya, biasanya sudah sangat mandiri, ini pakai celana sendiri saja gak mau lagi"

"Si Abang tidak mau punya adik, katanya takut nanti tidak disayang lagi. Jangankan punya adik, emaknya aja gak boleh  gendong anak bayi orang lain"

" Anak saya suka mukul adiknya dan mereka gak pernah akur. Gak mau main bareng, selalu rebutan, padahal sudah sering di ingatkan agar sayang sama adiknya"


" Si Sulung sekarang jadi suka ngompol sejak punya adik, padahal dulu gak pernah lagi"


Pernah dengar keluhan atau pertanyaan senada seperti itu atau bahkan mom yang merasakan sendiri? Mom, Itu semua disebabkan efek kecemburuan yang timbul karena sang Kakak atau Abang belum siap atau tidak disiapkan untuk memiliki adik baru. Dia belum siap jika kasih sayang dan perhatian yang selama ini hanya untuk dia seorang tiba-tiba harus terbagi dengan hadirnya adik baru dalam keluarga yang akan merubah segalanya. Apalagi awal-awal kelahiran si bayi, seringnya perhatian  dan waktu sang ibu untuk sibayi lebih dominan. Jika hal ini tidak ditangani dengan baik, hati-hati mom, bisa menjadi sibling rivalry di keesokan hari. 

Berikut beberapa tips menyiapkan adik baru agar si Kakak atau Abang sayang dan cinta terhadap adiknya berdasarkan pengalaman saya mom.

1. Sampaikan rencana memiliki adik baru, idealnya jauh hari sebelum kita merencanakan kehamilan.
Sebelum memutuskan untuk hamil lagi, saya dan suami ajak diskusi si Abang tentang makna adik. Jadi ini bukan hanya keputusan suami dan istri saja, tapi anak sebagai salah satu anggota keluarga juga berhak ikut suara, karena mereka juga yang akan merasakan dampak hadirnya anggota keluarga baru nantinya.

2. Jika hamilnya tidak terencana, sehingga tidak punya waktu untuk mengajak diskusi sang Kakak, lakukan saat kehamilan. Sampaikan bahwa di perut bunda sekarang ada calon adik bayi. Sampaikan plus minusnya  punya adik. Beri dia keyakinan bahwa hadirnya adik bayi tak akan mengurangi cinta kita untuk dia, walaupun dalam hal waktu bersamanya akan sedikit berbeda nantinya. Ajak elus calon adik bayi di perut bunda dengan penuh cinta.
Alhamdulillah duo Abang dulu sangat excited ketika diajak elus calon adik bayi di perut ummi, bahkan bukan hanya elus tapi peluk dan cium. Haha. Dan ini akhirnya jadi aktivitas rutin mereka, setiap saya baringan, pasti mereka pegang perut saya dan cium sambil ngajak calon adik bayi ngobrol. Apalagi ketika sijanin geraknya udah aktif, mereka makin suka. Lucu-lucu gimana gitu kali ya, pas janinnya gerak-gerak sambil nanya sama saya, "ini kakinya ya mi?", "Ini pantatnya mi", "ini kepalanya mi". Haha
Akhirnya mereka yang tidak sabar menanti adik bayi lahir.

3. Ajak si Abang saat jadwal pemeriksaan kehamilan  atau minimal melihat foto-foto hasil USG calon debay dalam rahim bunda.
Duo Abang dulu kadang-kadang kami ajak saat periksa kehamilan. Di sana mereka juga bisa dengar langsung penjelasan dokter dan saran-saran dari dokter jika ada. Seperti saat saya diharuskan banyak minum dan istirahat agar tidak terlalu lelah yang bisa mengakibatkan kram atau kontraksi perut. Ketika dirumah, duo Abang ikut mengingatkan ketika saya lupa diri sehingga kelelahan. So sweet banget deh, ada banyak pangeran ganteng yang perhatian. Hehe

4. Ikut sertakan si Kakak/Abang saat menyiapkan keperluan untuk menyambut  kelahiran bayi dan menyiapkam nama untuk adik bayi.
Ini sangat menyenangkan untuk si Kakak. Rasa memilikinya akan semakin tumbuh, sehingga diharapkan ketika sang bayi lahir, si Kakak ikut menyayangi adiknya sepenuh hati.

Duo Abang juga sangat senang dulu saat diajak menyiapkan barang-barang calon adik bayi, sambil nostalgia waktu mereka bayi dulu. "A dulu juga pakai ini ya mi?",
"A dulu juga punya ini?", "Ini selimut A waktu bayi ya mi?, Nanti dipakai adik bayi?", dan berbagai pertanyaan lainnya.

5. Ceritakan hal-hal yang akan terjadi ketika adik bayi sudah lahir, jangan PHP    atau hanya menyampaikan yang indah-indah saja.
Dengan kehadiran bayi, pasti akan ada hal-hal yang biasanya bebas kita lakukan bersama si Kakak menjadi berubah. Misalnya, kita tidak bisa setiap waktu bermain bersama si Kakak, kini ada waktu yang harus kita berikan untuk adik bayi misalnya menyusui, dll.

6. Sebagai orang tua, kita tidak perlu bersikap excited berlebihan untuk menyambut adik dan tidak perlu menumpahkan kasih sayang berlebihan ke kakak karena takut nanti tidak bisa bersikap adil. Tetap berusaha bersikap tenang dan seimbang.

7. Siapkan waktu khusus untuk kakak setelah kelahiran adik. Jangan biarkan kakak merasakan kehilangan diri kita setelah adik bayi lahir dengan alasan adik bayi masih sangat memerlukan bunda. Ingat mom, kakak juga masih sangat memerlukan kita, bersikap adil lah. Luangkan waktu minimal 30 menit ayah dan bunda menjadi milik kakak sepenuhnya, bergantian minimal 1 x sehari setiap hari sangat penting. Dalam 30 menit itu jadilah milik kakak sepenuhnya, tidak sambil melakukan hal lain misalnya sambil bergadget, sambil menyusui, sambil baca buku atau sambil-sambil lainnya.

8. Tidak membebani kakak dengan tugas menjaga adik melebihi kemampuannya. Rentang perhatian anak dibawah 2 tahun hanya 5-10 menit dan dibawah 7 tahun hanyalah 20-30 menit, dan semakin meningkat hingga sekitar 45 menit di usia baligh. Meminta anak dibawa 7 tahun menjaga adik sementara anda menyelesaikan tumpukan cucian, setrikaan atau seabrek perkerjaan rumah hanya akan menghasilkan rasa frustrasi pada anak.

8. Seringlah memuji interaksi kakak dan adek meskipun hanya sekedar saling tersenyum atau duduk bersama dengan pujian efektif yaitu memuji perilakunya, bukan orangnya.

9. Tidak membanding-bandingkan.
“MasyaAllah adek hebat sudah bisa merangkak umur segini ya, Abang dulu belum bisa lho.. ” atau sebaliknya “Adek kok ngga seperti Abang, dulu Abang itu umur segini udah bisa jalan, dll”
Setiap anak itu unik, walaupun lahir dari rahim yang sama dan dibesarkan oleh orangtua yang sama. Membanding-bandingkan hanya akan menumbuhkan bibit kecemburuan pada diri anak sehingga berujung dengan sibling rivalry yang berkepanjangan bahkan  permusuhan antar saudara hingga dewasa. Na'udzubillahi min dzalik.

Oke mom, jika berniat menambah adik buat si Kakak atau si Abang, tips diatas boleh dicoba ya.

Tulisan ini saya buat dalam rangka arisan blog dan memenuhi tema dari Mb Putri Pamelia sebagai pemenang arisan kali ini. Silakan juga mampir ke blog beliau untuk membaca berbagai tips dan trik keren lainnya.

Selasa

RINDU


Lembutku kenang… kasihmu ibu… di dalam hati… ku kini menannggung rindu…
Kau tabur kasih… seumur masa… bergetar syahdu… ooh didalam nadiku…
Sembilan bulan… ku dalam rahimmu… bersusah payah… ooh ibu jaga diriku…
Sakit dan lelah tak kau hiraukan… demi diriku oh Ibu buah hatimu…
Tiada kumampu…membalas jasamu…
Hanyalah doa disetiap waktu….
Oh ibu… tak henti… kuharapkan doamu… mengalir disetiap nafasku…
Ibuuuuuuuuuuuuuu…..ibuuuuuuuuuuuu…oh….ibuuuuuuuuuuuuuuuuu
Lembutku kenang… kasihmu ibu… didalam hati… ku kini menannggung rindu…
Kau tabur kasih… seumur masa… bergetar syahdu… ooh didalam nadiku…
Indah bercanda denganmu ibu, didalam hati, ku kini selalu merindu
Sakit dan lelah tak kau hiraukan demi diriku oh ibu buah hatimu
Tiada kumampu membalas jasamu
Hanyalah doa disetiap waktu
Oh ibu tak henti kuharap doamu mengalir disetiap nafasku
Allahummaghfirlii waliwalidayya warhamhumaa kamaa rabbayanii shaghiraa…
Lembut ku kenang kasihmu ibu….

   Sayup  lirik syahdu ini terdengar mengalun indah dari vocal sang musisi Aceh yang terkenal dengan ketinggian nada suaranya dari smartphone milik suami sore itu. Lirik dan nadanya sukses membuat dada ini sesak dan air mata tak terbendung. Berbagai memori kebersamaan bersama almarhumah mama pun bermunculan. Saya rindu. Ah,,,tak tahu rasanya bagaimana menggambarkan rasa rindu yang sangat ini. Rasa rindu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya terhadap seseorang. Rindu yang menyesakkan dada. Rindu yang tak mungkin lagi terbayar di dunia ini, kecuali di satu tempat saja nantinya yaitu SURGA. Ya Rabb..Kumpulkan kami kembali di surgaMu.

      Dua bulan lebih sudah mama pergi untuk selamanya meninggalkan dunia fana ini dan kembali kepada Sang Pencipta. Walaupun saya ikhlas dan ridho atas kepergiannya, tapi rasa kehilangan tetap tak bisa ditutupi. Kembali terkenang saat¬-saat terakhir kehidupan mama. Pagi itu tiba-tiba adik bungsu saya mengabari bahwa mama tiba-tiba sesak. Mendengar kata sesak saya benar-benar panik. Kondisi itu yang sejak 2 mimggu sebelumnya saya khawatiri dirasakan mama dan selalu saya tanyakan ke mama setiap jumpa dan menelpon, ”Ma, ada sesak gak?.” Dan setiap saat jawabannya tetap sama, tidak. Pasalnya selama 2 minggu itu mama memutuskan tidak mau lagi menjalani rutinitas hemodialisis atau istilah awamnya cuci darah. Iya, Mama tercatat sebagai pasien gagal ginjal kronis selama 3 bulan terakhir. Kondisi tersebut mengharuskan beliau untuk rutin menjalani hemodialisis minimal 2 kali seminggu selama minimal 4 jam setiap sesinya. Semenjak itu kondisi tubuh mama semakin drop. Puncaknya adalah dua minggu sebelum kepergiannya, Mama tidak mau lagi menjalani rutinitas cuci darah. Sakit sekali, itu alasan beliau. Berbagai cara udah kami gunakan untuk membujuknya, tapi beliau tetap teguh sama pendiriannya. Terpaksa kami mengikuti keinginannya. Tak ingin berpasrah diri, akhirnya kami menerima masukan seorang teman untuk membawa mama berobat alternative terapi saraf. Kami tetap berikhtiar  mencari kesembuhan untuk mama. Alhamdulillah dua kali menjalani terapi, mama lumayan membaik. Beliau sudah bisa BAK walaupun masih belum banyak, dibandingkan sebelumnya tidak pernah BAK sama sekali lagi.  Ginjalnya sudah mulai aktif kembali. Tapi perasaan khawatir cairan dalam tubuh mama menumpuk karena tidak menjalani hemodialisa tak bisa ditepis. Qadarullah yang dikhawatirkan terjadi. Tiba-tiba mama sesak. Tapi beliau tetap tidak mau dibawa ke Rumah sakit. Hari itu saya terpaksa tidak mengikuti keinginan beliau. Saya tak mungkin membiarkan beliau sesak seperti itu tanpa penanganan. Saya harus berikhtiar. Setibanya di rumah kakak, saya langsung minta tolong Om daud, adiknya mama, mengangkat mama ke mobil untuk dibawa ke Rumah Sakit. Sepanjang perjalanan mama sesak. Sambil tetap berusaha kuat agar tidak menangis, sepanjang perjalanan dari rumah ke Rumah Sakit Budi Kemulian Batam, yang menghabiskan waktu lebih kurang 30 menit, saya mengajak mama untuk terus menyebut dan mengingat Allah. Alhamdulillah tak pernah putus itu keluar dari lisan mama. Ketika tiba-tiba mama bilang haus dan saya meminumkannya, tapi mama gak bisa minum, saya mulai curiga. Apakah saatnya telah tiba? Ya Allah, kalau memang waktunya akan tiba, saya ridho ya Allah, saya ikhlas.
Sampai dirumah sakit, mama sudah mulai tak sadarkan diri. Beliau segera ditangani oleh dokter dan paramedis lainnya. Apalagi setelah mereka tahu kalau mama adalah pasien tetap penyakit ginjal di situ. Tak berselang lama, mama mulai di Hemodialisa. Bergantian , saya, kakak, dan adik menjaga mama di ruangan, karena kami membawa anak-anak ikut serta. Jadi kami juga harus bergantian menjaga mereka di luar. Sesekali beliau sadar, tetap yang keluar dari lisan selaiu kalimat thoyyibah, Laa ilaha illallah atau kadang hanya ”Allah..Allah..Allah” diantara nafasnya yang tersengal-sengal, kemudian tidak lama beliau kembali tak sadarkan diri. Ketika proses hemodialisa masih dilakukan, kira-kira sudah 2 jam sejak mulai HD, mama kembali sadar. Kali ini mama dengan tegas meminta agar semua alat-alat medis yang melekat di badannya dibuka. Saya meminta mama bersabar sambil terus mengajak beliau berzikir dan menyebut nama Allah serta mentalqinkannya dengan tangisan yang tersekat. Allah..saya harus kuat. Saya elus dada dan kepala mama sambil juga membacakan ayat-ayat Alquran ditelinganya hingga beliau tenang dan tak sadarkan diri lagi. Selama sadar mama selalu menyebut Allah..Allah..Allah. Melihat mama sudah tenang dan terlelap kembali, saya keluar ruangan sebentar karena Baby Hamzah menangis dan digantikan adik saya. Sebelum keluar saya menghidupkkan murattal dari smartphone dan meletakkan di dekat kepalanya.
Di ruang tunggu, saya menyusui Hamzah dan menyuapi anak-anak yang belum makan dari siang. Setelah semua beres, saya segera kembali masuk menggantikan adik yang mau sholat karena waktu ashar telah tiba. Murattal masih berputar dan mama masih tertidur dengan tenang. Saya tidak tahu saat tak sadarkan diri itu, apakah mama tertidur atau pingsan. Tak lama saya duduk disamping mama, tiba-tiba alat HD berbunyi dan error. Saat itulah saya melihat mata mama terbuka sebentar dari tidurnya kemudian tertidur kembali dengan nafas yang tenang, sudah tidak sesak lagi sebelumnya. Apakah mama telah tiada? Fikiran saya berkecamuk. Lutut saya tiba-tiba lemas seolah tak mampu menobang badan saya lagi. Tangisan juga tak tertahankan lagi. Segera saya panggil dokter serta keluar ruangan memanggil adik dan kakak yang menunggu di depan. Dokter dan perawat segera datang mengecek nadi dan detak jantung mama. Kakak saya masuk dan terduduk dilantai tak kuasa menahan tangis. Saat itu dia sedang hamil 1 bulan. 

   Setelah melewati semua prosedur pengecekan, dokter mengambil keputusan dan menyimpulkan bahwa mama telah tiada. Dada saya tiba-tiba terasa sesak dan sakit sekali. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Allah, saya tidak punya ibu lagi. Saya lemas dan terduduk di lantai. Adik saya masuk, tangisannya pecah. Dia memeluk saya erat. Saya tidak boleh lemah, saya harus kuat. Jika saya lemah, kakak saya lemah, siapa yang akan menguatkannya? Saya faham, dia pasti yang paling sedih saat ini. Dia yang merasakan paling kehilangan. Kehilangan tempat bermanja, bercerita, dan meminta doa paling ampuh. Ya Allah, sayangi ibu kami, tempatkan dia di tempat yang mulia disisiMu. Ampuni segala dosanya, terima segala amalnya. Kumpulkan kami kembali di SurgaMu ya Allah.

        Kehilangan terbesar yang saya rasakan dalam hidup adalah kehilangan ibu. Kehilangan sosok yang telah mengandung, melahirkan, serta membesarkan saya dari kecil. Sosok yang memberikan dan sanggup mengorbankan apapun demi anaknya. Sosok yang doa-doanya tak pernah putus menembus langit untuk anak-anaknya meskipun kami sudah jadi istri orang. Sosok yang ikatan bathinnya tak pernah putus, yang tahu jika kami sakit walau jarak membentang dan tak ada yang memberitahukannya. Allah..saya sangat merindukannya. Banyak hal yang belum sempat saya lakukan untuknya. Belum banyak kebahagian yang saya persembahkan untuknya. Kini hanya doa-doa terbaik yang bisa kami persembahkan. 


4 Permainan Seru Mengisi Family Time Ala Ismoe Family

Sabtu dan Minggu adalah hari favorit yang selalu dinantikan anak-anak dan juga saya pastinya. Mulai senin, setiap hari mereka akan bertanya...