10 Januari 2018

Menyelesaikan Sibling Rivarly dengan Komunikasi Produktif

5 Januari 2018

Game Level 3 _Meningkatkan kecerdasan Anak

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu'alaikum semuanya. Berjumpa kembali bersama kami, Ismoe Family .. Alhamdulillah atas untuk hari ini yang luar biasa. Begitu banyak hal-hal baru dan penuh syukur.

Hari ini kami belum melakukan

4 Januari 2018

Game Level 3 Bunda Sayang "Rumahku Bersih dan Rapi"

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah,tak terasa akhirnya sampai di Tantangan ke 3 di Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Professional. Satu kata dalam melewati dua tantangan sebelumnya adalah Konsistensi. Perlu perjuangan lebih untuk menaklukkan ini. Di game level 1 walaupun tertatih bisa juga menyelesaikan gamesnya dan memperoleh badge, namun digame level 2 hanya bisa melewati 8 hari saja.

Bismillah, belajar dari games sebelumnya, InsyaAllah kali ini harus lebih baik.

Alhamdulillah setelah melakukan Family forum sederhana kemarin malam bersama suami dan anak-anak, untuk tantangan kali ini tentang Melatih Kecerdasan anak, kami sepakat memilih proyek "Rumahku tempat ternyamanku". Latar belakang memilih tema ini, karena ini merupakan hal terdesak yang harus kami tuntaskan mengingat sejak kehadiran anggota baru dikeluarga kecil kami, rumah yang bersih dan rapi adalah impian. Haha

Proyek kali ini kami awali dengan menata ulang letak perabot rumah. Alhamdulillah juga ini berbarengan dengan janji si sulung untuk mulai tidur terpisah dari orang tua. Pagi2 kami mengeluarkan isi kamar belakang yang selama ini menjadi perpustakaan dan ruang main anak-anak. Rak buku berserta isinya kami letakkan di ruang tengah.

Dalam proyek kali ini semua kebagian peran. Yabi kebagian angkat dan dorong rak buku serta angkat buku-buku besar dan berat. Abang Zaid(5y) dan Ummi merapikan kembali isi rak dan mengatur semua mainan didalam kotak masing-masing agar mudah ketika ingin dimainkan. Ammar(3y) memilih menyapu bekas ruangan baca dan membuang sampah. Baby hamzah nangis karena semua sibuk dan tidak ada yang ngajak dia ngobrol. Huft..pagi yang melelahkan tapi bahagia. Satu sudut rumah sudah beres, masih banyak sisanya.

Walaupun capek anak-anak sangat semangat dan bahagia.

18 Desember 2017

Ummi, itu ada ALLAH!

Ummi, Itu Allah...

By Safriani

Lembaran buku Mengenal Allah

Suatu waktu ketika kami sedang membaca buku bersama, Ammar(3y) berteriak senang," Ummi, itu ada Allah". 
Ternyata dia melihat tulisan Allah didalam buku tersebut. Untuk usia ini, anak memang masih  berpikir konkrit. 

Ummi :"Oh iya, ini hanya tulisan nama Allah sayang. Kita belum bisa melihat Allah di dunia ".

Zaid : "Kapan kita bisa lihat Allah mi?"

Ummi :"IsyaAllah nanti orang-orang yang beriman, akan bisa melihat Allah di surga ", emak berusaha bicara dengan pelan agar mereka bisa meresapi kata perkata yang emak sampaikan, sambil menatap anak-anak dengan senyum.

" Jadi, kita harus jadi orang baik dan taat sama Allah, agar nanti bisa melihat wajah Allah, itu hadiah tambahan yang Allah berikan kepada penduduk surga, siapa yang mau masuk surga dan melihat Allah?"
Dan anak-anak pun berteriak berusaha menjadi yang pertama menjawab bahwa mereka ingin masuk surga dan melihat Allah. Alhamdulillah. 

My God id Allah


Percakapan seperti ini seringkali menghiasi hari-hari kami. Kami berusaha untuk mengaitkan setiap hal dengan Allah. Ketika makan, ini rezeki dari Allah. Ketika mau punya adik bayi lagi, ayo kita minta sama Allah. Ketika sakit, ayo kita berdoa agar disembuhkan oleh Allah, karena  semuanya Allah yang punya. Allah yang mampu memberikan. Allah yang menciptakan. 

Atau dilain kesempatan, ketika melihat bunglon di pohon jambu yang berubah warnanya saat hinggap di dedaunan , anak-anak takjub. Yang akhirnya  diakhiri dengan kesimpulan indah, alangkah hebatnya ciptaan Allah. Ciptaan Allah aja hebat dan keren ya, apalagi penciptanya, pastinya lebih hebat. Allah itu Maha hebat. 

Abg Zaid, Ammar, dan Baby Hamzah

Usia 0-6 tahun merupakan masa anak memiliki rasa ingin  tahu yang besar tentang apapun, begitu pula tentang Allah, sang pencipta yang seringkali kami sebut-sebut diberbagai waktu, tempat dan kondisi. Dan masa ini juga merupakan masa-masa yang baik untuk merawat fitrah keimanan mereka dengan membangun imaji imaji keindahan tentang Allah, tentang Rasulullah SAW, tentang Islam dan kebaikan lainnya sehingga nantinya mampu melahirkan kesan dan cinta yang mendalam dalam diri mereka. 

Masa ini adalah tahap emas untuk mengenalkan Allah, Rasulullah SAW dan kebaikan kebaikan Islam. Pada masa ini Anak sedang pada puncak imaji dan abstraksinya, alam bawah sadarnya masih terbuka lebar, maka mengenalkan apapun tentang kebaikan apalagi dengan cara berkesan akan masuk ke dalam bawah sadarnya dan menguatkan fitrahnya. 

Kita ketahui bahwa Anak lahir dalam keadaan fitrah. Ketika lahir, dalam diri mereka telah terinstal fitrah keimanan kepada sang Khaliq. Tugas kita para orangtua hanyalah merawatnya  agar fitrah keimanan anak tumbuh subur, bukan malah mengkerdilkan bahkan mematikan fitrah tersebut. Jangan pernah khawatir bahwa anak tidak akan paham ketika kita berbicara dan menjelaskan tentang Allah kepada anak-anak. Allah itu apa? Allah itu siapa? Allah dimana?, Dll. 
Jangan remehkan kehebatan makhluk-makhluk kecil tersebut. 

Ketika anak bertanya tentang ALLAH, ini menjadi momen paling krusial yang kita hadapi sebagai orangtua. Berhati-hatilah dalam memberikan jawaban atas pertanyaan maha penting ini. Salah sedikit saja, bisa berarti kita menanam benih kesyirikan dalam diri buah hati kita. Nauzubillahi min zalik. Oleh karena itu, kita sebagai orangtua juga harus terus dan selalu belajar serta berdoa agar lisan kita mampu menjawab segala ingin tahu anak terlebih tentang penciptanya dengan benar dan tepat. 

Tulisan ini saya buat dalam rangka Arisan tulisan  dengan tema "Siapakah Allah?" yang di usung oleh Mb Ulfa 😊
Jazakillah Khair mb, semoga tulisan ini bermanfaat. 



7 Desember 2017

DIY Counting Board

Bismillahirrahmanirrahim...

Alhamdulillah, akhirnya jadi juga merealisasikan  keinginan untuk membuat alat belajar mengenal angka untuk Ammar(3y) yang sudah lama tertunda. Salah satu kegemaran emak adalah mengumpulkan barang-barang bekas yang kiranya masih mempunyai nilai manfaat ketika diolah kembali, salah satunya kardus bekas apapun yang masih bagus, pasti masuk gudang penyimpanan emak dirumah. 😂 Tapi, seringnya bahan-bahan itu terus menumpuk di rumah, yang entah kapan punya waktu untuk mengeksekusinya,. Hal ini disebabkan waktu luang yang sangat langka, sehingga akhirnya keinginan itu selalu tertunda beberapa lamanya. Maklum, emak artis sok sibuk 😁

Nah, kebetulan Rumah Belajar Craft IIP Batam mengadakan challenge Keluarga IIP Batam untuk membuat karya dari bahan dasar kardus, ini kesempatan langka buat emak yang tak boleh disia-siakan. Walaupun waktunya sangat mepet gak sampai seminggu, emak berusaha untuk bisa ikutan challenge ini. Malam kemarin akhirnya mengadakan family forum untuk membicarakan tantangan ini. Alhamdulillah semua sepakat. Ini jadi proyek keluarga kami kali ini. Tanpa banyak basa-basi basi, esoknya yabi menemani untuk beli beberapa bahan yang sudah habis dirumah, salah satunya lem tembak. 

Pagi ini setelah yabi berangkat kerja, kamipun mulai eksekusi. Semuanya kebagian tugas, termasuk baby hamzah jadi pemantau dan pengaman keadaan. Haha..karena kalau baby hamzah rewel, proyek ini juga bakalan tertunda lama lagi, padahal hari ini adalah deadline challengenya.  


Setelah mempersiapkan semua bahan, ummi kumpulin anak-anak yang pagi tadi masih tercerai berai.😂 Abang Zaid sedang gunting rumput di depan rumah, Abg Ammar sedang main air dikamar mandi. Dan Baby Hamzah sedang ngoceh sendirian di kamar. 

Abang Zaid dan Ammar sudah siap memulai proyek

Alat dan Bahan

Tepat Pukul 09.00 WIB, proyek pun dimulai. Emak bertugas potong-potong kardus sesuai pola menggunakan cutter dan gunting. Abang Zaid kebagian tugas membuat pola angka, menebalkan dengan spidol dan menempel pasir. Abg Ammar bertugas mewarnai Cutton Bud yang akan dijadikan salah satu alat berajar berhitung. 



Alhamdulillah semua menikmati tugas masing2 dan berjuang semaksimal mungkin untuk menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawab mereka. Ammar yang bertugas mewarnai Cutton Bud mengeluh capek dan pegal. Karena kasian karena si tengah memang sedang kurang sehat, emak minta dia untuk istirahat saja. Dan sisanya biar ummi yang nanti lanjutkan. Tetapi, ternyata Ammar menolak, dan dia tetap berusaha menyelesaikan tugasnya. Bahkan, ketika jam 11 proyeknya  selesai pun, dia tetap berinisiatif untuk  membereskan rumah  yang berantakan  tanpa disuruh. MasyaAllah, Barakallah neuk. Semoga engkau  terus menjadi yang bertanggung jawab dan pantang menyerah hingga dewasa kelak. 

Abang Zaid sedang menebalkan angka dengan spidol


Ammar sedang mewarnai cutton Bud walaupun kelelahan

Tanpa komando setelah proyek selesai segera ambil sapu dan membersihkan ruangan


Yeay..akhirnya kita punya alat peraga belajar berhitung yang baru dari bahan bekas dan hasil karya emak dan anak2 yang terinspirasi dari Mb Uchy. Lumayan irit dan hemat ya kan ;-)

Kartu angka dari pasir untuk sentuhan dan cutton Bud untuk berhitung serta mereview warna

Counting Board ( Cara penggunaan)

Abang Zaid yang semangat main, Ammar sudah tepar
#KeluargaIIPBatam
#ChallegeKeluargaIIPBatam

Melatih Kemandirian Anak2# "Aku Bisa Makan Sendiri"

"Aku Bisa Makan Sendiri"

Makan sendiri merupakan salah satu kemandirian yang sangat perlu dilatih sejak dini. Zaid dan Ammar sejak umur 2 tahun sudah dilatih makan sendiri. 

Diantara sekian latihan kemandirian, Zaid dan Ammar paling lama lulus di point makan sendiri. Setelah direwiew, ternyata penyebab lamanya lulus di point ini karena campur tangan emaknya juga 😀

Emaknya kurang sabar kalau lihat anak-anak makannya lamaaaa banget dan menyisakan makanan. Kalau cuma kotor emak masih woles aja, tapi kalau makanannya bersisa emak tengsin gimana gitu. walaupun selalu disounding agar mengambil makanan sesuai dengan porsi perut masing-masing agar tidak bersisa dan mubazir, tetap aja bersisa, ujung-ujung biar gak mubazir masuk perut emak, akhirnya emak makin lebar, gimana gak tengsin coba 😁. 

Anehnya kalau disuapin, anak-anak makannya lahap, efek tangan emak sepertinya, yang bisa mengubah rasa masakan jadi istimewa 😜. Penyebab lainnya, karena kalau lagi diluar, emak juga lebih milih nyiapin biar tetap bersih daripada mengotori tempat umum, gak enakan aja rasanya. 

Selama beberapa hari kemarin, emak mencoba rutin lagi melatih anak-anak makan sendiri. Terutama Abang Zaid yang sebulan lagi usianya genap 5 tahun. Kalau Ammar juga dilatih sih, tapi mengingat BBnya sekarang sudah digaris kuning, emak harus memastikan makannya cukup. Sambil pelan-pelan dilatih juga. 

Alhamdulillah hari ini  sarapan dan makan malam Zaid berhasil makan sendiri, walaupun masih bersisa dan agak drama awalnya. Minta potong-potong ini ikan lah, minta sendokin nasinya lah,wkwk..banyaknya akalmu neuk,biar emak makan lewat tangan emak. 

Abang Zaid makan sendiri

Makan siang gagal karena disuapin yabi. Alasannya karena yabi mau pergi lama, jadi minta suapin sama yabi. Wkwkwk...okelah emak ngalah kali ini. Besok kita coba lagi ya neuk, besok yabi juga gak dirumah, emak juga bakalan rempong sendirian karena yabi gak dirumah, gak ada yang bantuin. Bantuan Emak ya neuk, besok makan sendiri lagi. Semoga ada kemajuan.

#Harike2
#Tantangan10Hari
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

4 Desember 2017

Melatih Kemandirian#5 "Ummi, Abang ngepel ya?"

Hari ini mencoba salah satu kemandirian lain yang kami targetkan kepada anak-anak, untuk Abnah Zaid ditargetkan doi sudah mampu untuk merapikan tempat tidur dan menyapu kamar. Sedangkan untuk Abang Ammar targetnya sudah mampu merapikan mainannya setelah bermain dan meletakkan pada tempatnya.

Menyelesaikan Sibling Rivarly dengan Komunikasi Produktif

Abang Zaid dan Ammar   Istilah Sibling Rivarly sepertinya sudah tidak asing lagi apalagi dalam keluarga yang memiliki anak lebi...