Langsung ke konten utama

Tantangan 5 Tahun pertama pernikahan


     Sejak dulu sebelum menikah saya suka takjub ketika melihat pasangan kakek nenek yang tetap mesra dan penuh kasih sayang diusia senja mereka walau bagaimanapun kondisi mereka. Mereka telah berhasil melewati tantangan demi tantangan ( setelah Belajar komunikasi produktif, berusaha mengganti ganti kata masalah dengan tantangan ๐Ÿ˜Š) dalam kehidupan pernikahan mereka. Ditengah banyak pasangan muda yang usia pernikahannya masih seumur jagung tapi sudah harus berpisah (cerai) dengan berbagai alasan yang ternyata sangat sepele dan masih bisa diperbaiki jika mereka punya motivasi kuat untuk mempertahankan mahligai rumah tangga. Hal-hal seperti ini sangat membuat saya bersedih, apalagi jika pasangan muda itu adalah orang-orang saya kenal walaupun sepintas dan sudah memiliki anak. Saya membayangkan bagaimana nasib anak tersebut tumbuh dalam keluarga yang broken home. Pasti sangat tidak nyaman.

Beberapa kali saya dan suami mendapati curhat via Chat atau kedatangan pasangan muda yang sedang bermasalah dalam pernikahannya serta meminta pendapat solusi permasalahan mereka. Sebenarnya merasa tidak pantas karena ilmu kami yang masih sangat sedikit dan pengalaman pernikahan yang juga baru saja melewati usia 5 tahun. Tapi, karena rasa sedih melihat banyaknya mahligai rumah tangga yang baru dibangun kerap hancur dalam hitungan tahun bahkan bulan, membuat saya dan suami berusaha mengambil peran sekecil apapun yang kami mampu untuk membantu pasangan-pasangan muda agar mampu mempertahankan pernikahan mereka,minimal melewati tantangan 5 tahun pertama pernikahannya. Berbekal pengalaman melewati 5 tahun pertama pernikahan kami, saya ingin berbagi agar semakin banyak sahabat-sahabat yang juga mampu melewati tantangan tahun demi tahun dalam pernikahan mereka sehingga kita semua bisa sehidup sesurga bersama pasangan dunia akhirat kita ๐Ÿ˜‰
Aamiin 

Seperti beberapa waktu yang lalu, sore hari ketika sedang asyik bercengkrama dengan anak-anak, saya mendapat sebuah chat dari seorang ibu muda . Beliau curhat tentang suaminya yang begini begitu. Mendapati chat tersebut saya tidak bisa banyak berkomentar, karena tidak tahu duduk permasalahannya dan sudut pandang masing-masing dari suami atau istri. Saya hanya berpesan coba bangun komunikasi yang baik. Ajak suami ngobrol ketika waktunya lagi tenang dan emosinya stabil. 
Setelah berbalas chat panjang lebar, akhirnya siistri mau mencoba beberapa saran saya. 

Dua hari kemudian, masuk kembali chat dari ibu muda tersebut, mengabarkan bahwa dia udah Lelah. Dia mau cerai saja. Gak ada lagi solusi, bahkan udah 4 kali  dimediasi oleh beberapa orang yang dipercaya tidak ada hasilnya.  Saya tercekat, subhanallah, betapa mudahnya kata cerai terucap. Saya menyuruh si ibu untuk tenang dan banyak2 istighfar dulu. Khawatir siibu sedang panas dan hembusan syaitan semakin menjadi-jadi.
Saya sampaikan untuk mengajak sang suami bersama-sama mencari jalan keluar atau solusi permasalahannya. Akhirnya dia mau untuk silaturahim ke rumah dan mengajak suaminya malam itu juga. Alhamdulillah suami saya pun malam itu sedang dirumah. 

Mulai jam 9 malam hingga tengah malam suasana mediasi diwarnai adu pendapat dan saling debat. Bahkan ketika awal bicara, sang suami langsung pesimis karena mediasi seperti ini sudah dilakukan  sebanyak 4 kali.  Setelah mendengar cerita dari masing2 sudut pandang sang suami dan sang istri, saya dan suami tersenyum. Ternyata permasalahnya adalah hal-hal yang umum terjadi dimasa awal-awal pernikahan, dan tidak jauh berbeda dari yang kami pernah alami. Tetapi karena tidak ditangani sejak awal disebabkan kurangnya ilmu tentang berumah tangga sehingga semakin blunder dan mencapai puncaknya. 

Setelah disimpulkan permasalahan diawali karena masing-masing kurang memahami karakter pasangan, perbedaan karakter laki-laki dan perempuan, latar belakang keluarga istri yang secara finansial biasa hidup berkecukupan dan suami yang terbiasa sederhana. Ekspektasi sebelum menikah dan setelah menikah yang jauh berbeda serta campur tangan terlalu dalam pihak keluarga suami dalam urusan rumah tangga mereka. Alhamdulillah setelah diurai satu persatu dan dicari solusinya, menguatkan kembali tujuan awal pernikahan, mendengar harapan dari/ke masing2,  dan komitmen ke depannya masing2 sepakat untuk memperbaiki dari awal dan mau bersabar dengan proses.

Setelah kira-kira seminggu dari acara mediasi, kami coba menanyakan kabar mereka kembali, dengan tersenyum mereka menjawab baik dan sedang berproses semakin baik. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang Maha membolak-balik balikkan hati. Semoga ikatan pernikahan mereka dan kita semua berkekalan hingga ke surga. Aamiin




Banyak penelitian mengungkapkan bahwa 5 tahun awal pernikahan merupakan masa terberat dalam sebuah rumah tangga. Mengutip dari majalah Ummi, Inilah beberapa penyebab terbanyak : 

1. Sulit beradaptasi dengan pasangan
Kebiasaan-kebiasaan yang berbeda biasanya menjadi pemicu konflik di antara pasutri. Misalnya kebiasaan pasangan menaruh barang sembarangan, kebiasaan pasangan tidur mendengkur, menaruh botol kosong dalam kulkas, menghidupkan lampu di saat tidur, makan dengan cara berdecak dan berisik, bahkan hal sepele pun bisa menjadi sumber ketidaknyamanan di tahun awal pernikahan.

2. Masalah keuangan

Pasca pesta pernikahan, biasanya tabungan sudah menipis, bahkan ada juga yang perlu membayar utang, hal ini menyebabkan pasutri merasa stress dan sensitif. Kebanyakan uang merupakan penyebab pertikaian terbesar dalam rumah tangga.

Buatlah proritas keuangan dan perencanaan untuk mengurangi masalah ini. Pikirkan mengenai anggaran tiap bulannya, tabungan, tunjangan kesehatan, juga investasi untuk pendidikan anak.

3. Ekspetasi berlebih
Banyak yang merasa berat di awal pernikahan karena terlanjur memiliki ekspektasi berlebih sebelum menikah.
Bagi laki-laki, menikah berarti ada yang menyediakan makanan sebelum berangkat kerja dan setelah pulang kerja. Ada yang memberikan pijatan ketika lelah. Ada senyuman manis tiap kali bangun tidur dan sesaat sebelum tidur.
Bagi perempuan, menikah berarti ada yang memberi uang jajan tiap bulan. Ada teman yang mau mendengarkan segala curhat dan keluhan. Ada yang memuji segala yang dilakukan.
Ketika ekspektasi ini tidak terwujud, maka timbul kekecewaan, bahkan bisa jadi pertengkaran yang menyebabkan masalah dalam rumah tangga.

4. Sukar melepaskan gaya hidup lajang
Kebiasaan hang out bareng teman-teman, beli pernak-pernik lucu yang sebenarnya tidak penting, menghamburkan uang gaji untuk senang-senang, sulit move on dari gaya hidup semasa lajang tentu saja bisa menjadi salah satu penyebab seseorang merasa tahun awal pernikahan begitu berat.
Kecuali bagi mereka yang sudah terbiasa mandiri, menghadapi kerasnya kehidupan, biasanya pernikahan justru menjadi berkah luar biasa karena pintu rezeki seakan terbuka lebar.

5. Masalah Mertua dan ipar
Masalah mertua dan ipar juga menjadi faktor terasa beratnya kehidupan awal pernikahan. Tentu saja hal ini dapat diantisipasi dengan belajar menjadi menantu yang mampu merendahkan hati dan merebut hati mertua sejak sebelum pernikahan berlangsung. Masing-masing pihak suami dan istri juga harus bisa menjadi Public Relation untuk masing kelurga.

7. Masalah Seks
Setelah uang, masalah yang paling umum lainnya adalah seks. Oleh karena itu, bersikap terbuka dan mendiskusikan mengenai apa yang diinginkan baik oleh diri sendiri maupun pasangan dalam hal seks. Ketika kehidupan seks bahagia, makan kehidupan rumah tangga juga akan bahagia.


Demikian beberapa alasan mengapa 5 tahun awal pernikahan merupakan masa-masa terberat yang perlu dilalui para pasutri hingga mencapai kebahagiaan. Semoga bermanfaat

Tulisan ini saya buat dalam rangka arisan perdana Rumbel menulis IIP Batam yang dimenangkan oleh mb moniquefirsty21 dengan tema "Pengalaman terbaik yang menginspirasi". 


Komentar

  1. Terima Kasih Tips-tipsnya mbak yah, dakupun juga sudah 5 tahun Alhamdulilah, dan masih terus belajar..

    BalasHapus
  2. Wah, ternyata sering mediasi pasangan ya mb.
    saya baru seumur jagung menikah. baru 3 tahun. semoga terus langgeng seperti mb ya. aamiin

    BalasHapus
  3. Terimksh mba .... saya sabe semua yg mba sampaikan... krn pernikahan sayapun belum sampai 5 tahun... semoga ttp samara....

    BalasHapus
  4. Trims masukan nya mbk, sya jug baru 5 thn menikah and still counting..hehe alhamdulillah

    BalasHapus
  5. Terimakasih sudah berbagi tips pernikahannya mba ๐Ÿ’•

    BalasHapus
  6. Makasih mbak tulisannya...jadi pengingat buat saya yang belum setahun menikah๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ

    BalasHapus
  7. Sangat menginspirasi mba syafri...terimakasih udah berbagi cerita

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ummi, itu ada ALLAH!

Ummi, Itu Allah...By Safriani

Suatu waktu ketika kami sedang membaca buku bersama, Ammar(3y) berteriak senang," Ummi, itu ada Allah".  Ternyata dia melihat tulisan Allah didalam buku tersebut. Untuk usia ini, anak memang masih  berpikir konkrit. 
Ummi :"Oh iya, ini hanya tulisan nama Allah sayang. Kita belum bisa melihat Allah di dunia ".
Zaid : "Kapan kita bisa lihat Allah mi?"
Ummi :"IsyaAllah nanti orang-orang yang beriman, akan bisa melihat Allah di surga ", emak berusaha bicara dengan pelan agar mereka bisa meresapi kata perkata yang emak sampaikan, sambil menatap anak-anak dengan senyum.
" Jadi, kita harus jadi orang baik dan taat sama Allah, agar nanti bisa melihat wajah Allah, itu hadiah tambahan yang Allah berikan kepada penduduk surga, siapa yang mau masuk surga dan melihat Allah?" Dan anak-anak pun berteriak berusaha menjadi yang pertama menjawab bahwa mereka ingin masuk surga dan melihat Allah. Alhamdulillah. 


Percakapan se…

Melatih Kemandirian#1 "Ayo berlatih dan berproses bersama"

Bismillahirrahmanirrahim.. Alhamdulillah materi kedua di Kelas Bunda Sayang Batch 3 Institut Ibu Professional sudah selesai dikunyah dan dilahap dengan semangat. Saya sangat bahagia karena materi kali ini juga sangat sesuai dengan kebutuhan keluarga saya saat ini. Bukan hanya materinya yang membuat fikiran semakin tercerahkan, tetapi Game Level 2 ini juga sangat pas. Saat ini saya sedang berusaha keras melatih kemandirian untuk anak-anak di beberapa hal yang masih belum konsisten. Dengan adanya tantangan di game kali ini, akhirnya kami sepakat untuk kembali merumuskan ulang dan detail serta berupaya untuk mendokumentasikan proses melatih kemandirian anak-anak kali ini. 
Dari hasil family forum sederhana kami tadi malam sebelum tidur ๐Ÿ˜€ , kami sepakat dan telah mencatat point-point yang akan kami berusaha terapkan  bersama. Point yang menjadi fokus kami adalah hal-hal yang sebenarnya anak-anak sudah bisa namun tidak konsisten disebabkan berbagai alasan. Tantangan kami kali ini adalah di …

Maafkan ummi, Neuk

Adalah suatu kebahagiaan ketika pertama kali mengetahui bahwa di dalam rahim ummi, telah ada sebuah janin. Sebulan setelah menikah dengan yabi, tiba-tiba ummi mulai sering mual, gak bisa nyium makanan atau apapun yang berbau tajam, bawaannya lemes. Segera yabi membeli tespack di apotik, besok paginya ummi pun segera tes, hasilnya seperti dugaan, dua garis bertengger di alat tersebut. Bahagia pasti. Cemas juga iya. Ummi akan segera jadi ibu. Status Single yang baru sebulan berubah menjadi istri, tak lama lagi InsyaAllah juga akan bertambah menjadi seorang Ibu. Akankah ummi mampu menjadi ummi yang baik bagimu dan adik-adikmu kelak? Walaupun seabreg buku parenting juga sudah ummi lahap jauh sebelum Ummi dan yabi ditaarufkan hingga saat kamu tersemai dirahim ummi. Tapi, kecemasan itu tetap berkecamuk di dada ummi. Karena yang ummi tahu, teori dengan praktek tak akan 100% sama. Bismillah, hanya tawakkal dan berdoa kepada Allah setelah ikhtiar bekal ilmu sudah ummi persiapkan. Hingga 8 bul…