Langsung ke konten utama

Komunikasi Produktif#4

Komunikasi Produktif” Level 1
Hari ketiga#4, 6 November 2017

Alhamdulillah, hari ini masuk hari ke #4 Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif. Emak merasa lebih waras dalam memilih diksi dan mengatur  intonasi suara, walaupun beberapa kali sempat juga kelepasan,hiks๐Ÿ˜ฅ tapi emak cepat sadar dan bisa menguasai situasi kembali. Emak udah tidak lagi menghamburkan 20.000 stok kata untuk hal-hal yang tidak penting, seperti nyerocos panjang kali lebar saat berkomunikasi dengan anak-anak. Berusaha untuk menyusun kata-kata sebagai kalimat singkat penuh makna yang mudah difahami oleh anak-anak. 

Anak belum pernah menjadi orang dewasa, tapi orang dewasa sudah pernah  menjadi anak-anak. Sehingga kita tidak bisa memaksakan anak-anak kita faham pada gaya berkomunikasi kita. Seharusnya kitalah yang harus faham pada gaya komunikasi anak-anak kita. All right? 

Tantangan terbesar komunikasi produktif saat ini dengan sisulung adalah bagaimana mengajak dia agar mampu mengontrol diri untuk tidak Meu cek-cek ( baca : nangis-nangis ketika meminta sesuatu atau di usilin adiknya). Biasanya saya kesal sama Zaid karena sikit-sikit nangis. Tetapi, Alhamdulillah, walaupun sangat kesel saya belum pernah melabel dia sebagai anak cengeng dan label -label lainnya. Sebelumnya emak sudah sering mengingatkan agar berbicara tanpa menangis. Sampaikan dengan jelas apa yang diinginkan. Ungkapkan apa yang dirasakan. Tetapi sampai saat ini hal ini masih juga berulang.

Masalah ini membuat emak kembali merenung, apa yang masih salah atau kurang saya lakukan untuk merubah kebiasaan jelek tersebut. Saya khawatir ini terbawa hingga besar dan jadi sasaran bully teman-temannya.

 Seperti tadi pagi, ketika adiknya duluan main ayunan, tiba-tiba Zaid datang minta ayunannya. Ammar nolak untuk berbagi dulu karena dia belum puas. Hal ini pun buat dia nangis dan ngadu ke emak. Biasanya emak langsung nanggapin, ngajak Ammar untuk berbagi atau menyuruh Zaid untuk bersabar sebentar lagi. Kali ini emak cukup berkata : "Terimakasih neuk, sudah kasi tahu ummi, Ayo selesaikan dulu masalahnya. Abang bisa ngomong baik-baik sama Ammar ya''. Sambil tersenyum serta  meyakinkan dia bahwa dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Bukan Zaid namanya kalo langsung menerima, haha. Tetap dibujuk dan diyakinkan berulang kali. Good job dear for today. Besok kita belajar dan latihan lagi ya ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

Dan Ternyata Alhamdulillah berhasil..yeaaayyy. Ammar menyerahkan ayunan untuk Abang. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ummi, itu ada ALLAH!

Ummi, Itu Allah...By Safriani

Suatu waktu ketika kami sedang membaca buku bersama, Ammar(3y) berteriak senang," Ummi, itu ada Allah".  Ternyata dia melihat tulisan Allah didalam buku tersebut. Untuk usia ini, anak memang masih  berpikir konkrit. 
Ummi :"Oh iya, ini hanya tulisan nama Allah sayang. Kita belum bisa melihat Allah di dunia ".
Zaid : "Kapan kita bisa lihat Allah mi?"
Ummi :"IsyaAllah nanti orang-orang yang beriman, akan bisa melihat Allah di surga ", emak berusaha bicara dengan pelan agar mereka bisa meresapi kata perkata yang emak sampaikan, sambil menatap anak-anak dengan senyum.
" Jadi, kita harus jadi orang baik dan taat sama Allah, agar nanti bisa melihat wajah Allah, itu hadiah tambahan yang Allah berikan kepada penduduk surga, siapa yang mau masuk surga dan melihat Allah?" Dan anak-anak pun berteriak berusaha menjadi yang pertama menjawab bahwa mereka ingin masuk surga dan melihat Allah. Alhamdulillah. 


Percakapan se…

Melatih Kemandirian#1 "Ayo berlatih dan berproses bersama"

Bismillahirrahmanirrahim.. Alhamdulillah materi kedua di Kelas Bunda Sayang Batch 3 Institut Ibu Professional sudah selesai dikunyah dan dilahap dengan semangat. Saya sangat bahagia karena materi kali ini juga sangat sesuai dengan kebutuhan keluarga saya saat ini. Bukan hanya materinya yang membuat fikiran semakin tercerahkan, tetapi Game Level 2 ini juga sangat pas. Saat ini saya sedang berusaha keras melatih kemandirian untuk anak-anak di beberapa hal yang masih belum konsisten. Dengan adanya tantangan di game kali ini, akhirnya kami sepakat untuk kembali merumuskan ulang dan detail serta berupaya untuk mendokumentasikan proses melatih kemandirian anak-anak kali ini. 
Dari hasil family forum sederhana kami tadi malam sebelum tidur ๐Ÿ˜€ , kami sepakat dan telah mencatat point-point yang akan kami berusaha terapkan  bersama. Point yang menjadi fokus kami adalah hal-hal yang sebenarnya anak-anak sudah bisa namun tidak konsisten disebabkan berbagai alasan. Tantangan kami kali ini adalah di …

Tantangan 5 Tahun pertama pernikahan

Sejak dulu sebelum menikah saya suka takjub ketika melihat pasangan kakek nenek yang tetap mesra dan penuh kasih sayang diusia senja mereka walau bagaimanapun kondisi mereka. Mereka telah berhasil melewati tantangan demi tantangan ( setelah Belajar komunikasi produktif, berusaha mengganti ganti kata masalah dengan tantangan ๐Ÿ˜Š) dalam kehidupan pernikahan mereka. Ditengah banyak pasangan muda yang usia pernikahannya masih seumur jagung tapi sudah harus berpisah (cerai) dengan berbagai alasan yang ternyata sangat sepele dan masih bisa diperbaiki jika mereka punya motivasi kuat untuk mempertahankan mahligai rumah tangga. Hal-hal seperti ini sangat membuat saya bersedih, apalagi jika pasangan muda itu adalah orang-orang saya kenal walaupun sepintas dan sudah memiliki anak. Saya membayangkan bagaimana nasib anak tersebut tumbuh dalam keluarga yang broken home. Pasti sangat tidak nyaman.

Beberapa kali saya dan suami mendapati curhat via Chat atau kedatangan pasangan muda yang sedang be…

Maafkan ummi, Neuk

Adalah suatu kebahagiaan ketika pertama kali mengetahui bahwa di dalam rahim ummi, telah ada sebuah janin. Sebulan setelah menikah dengan yabi, tiba-tiba ummi mulai sering mual, gak bisa nyium makanan atau apapun yang berbau tajam, bawaannya lemes. Segera yabi membeli tespack di apotik, besok paginya ummi pun segera tes, hasilnya seperti dugaan, dua garis bertengger di alat tersebut. Bahagia pasti. Cemas juga iya. Ummi akan segera jadi ibu. Status Single yang baru sebulan berubah menjadi istri, tak lama lagi InsyaAllah juga akan bertambah menjadi seorang Ibu. Akankah ummi mampu menjadi ummi yang baik bagimu dan adik-adikmu kelak? Walaupun seabreg buku parenting juga sudah ummi lahap jauh sebelum Ummi dan yabi ditaarufkan hingga saat kamu tersemai dirahim ummi. Tapi, kecemasan itu tetap berkecamuk di dada ummi. Karena yang ummi tahu, teori dengan praktek tak akan 100% sama. Bismillah, hanya tawakkal dan berdoa kepada Allah setelah ikhtiar bekal ilmu sudah ummi persiapkan. Hingga 8 bul…