Minggu

HIJRAH

Mendengar kata hijrah, fikiran saya langsung langsung terbang melayang melintasi waktu kembali ke medio tahun 2004. Kala itu saya baru menapaki dunia putih abu-abu. Ya, itu adalah awal saya memasuki jenjang Sekolah Menengah Atas di sebuah Kota di Aceh. Disana pula lah awal saya mengenal kata HIJRAH dan menikmati indahnya awal proses hijrah. Apa itu hijrah?

Kata Hijrah berasal dari bahasa arab, yang berarti meninggalkan, menjauhkan dari dan berpindah tempat. Seperti halnya hijrahnya Rasulullah bersama para sahabat dari Mekah ke Madinah agar dakwah beliau bisa berkembang setelah mandek sekian lama di Mekah karena tekanan dan hambatan dari para kafir Quraish di Mekah. Rasulullah memutuskan hijrah dari mekah ke Madinah. Tempat dimana Islam diterima dengan sukacita dan lapang dada oleh penduduk Madinah. Hijrah dengan tujuan mempertahankan aqidah dan menegakkan risalah Allah dan syariat Islam. Disanalah islam bangkit hingga akhirnya mekkah pun mampu ditundukkan kembali dibawah Panji Islam.

Perintah berhijrah terdapat dalam beberpa ayat Al-Qur’an, antara lain: Qs. Al-Baqarah 2:218).“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berhijrah di jalan Allah, mereka itu mengharpakn rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang mujairin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni;mat) yang mulia. (Qs. Al-An’fal, 8:74)

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan (Qs. At-Taubah, 9:2)

Hijrah harus dilakukan atas dasar niat karena Allah dan tujuan mendapatkan rahmat serta keridhaan Allah. Orang-orang  beriman yang berhijrah dan berjihad dengan niat karena Allah dan tujuan untuk meraih rahmat dan keridhaan Allah, mereka itulah adalah mu’min sejati yang akan memperoleh pengampunan Allah, memperoleh  keberkahan rizki dan kemenangan di sisi Allah. Hijrah dan jihad dapat dilakukan dengan mengorbankan apa yang kita  miliki, termasuk  hartabenda, bahkan jiwa.

Bagi saya pribadi, hijrah adalah proses berubah. Berubah dari buruk menjadi semakin baik.Berubah dari tak ada menjadi ada. Berubah dari buta menjadi terang benderang. Berubah dari tak tahu menjadi semakin tahu, bukannya malah bangga atas ketidaktahuan seperti cerita sang nenek pembaca puisi yang viral itu. 

Saya kecil adalah seorang gadis tomboy yang tidak bisa diam dan sangat suka tantangan. Walaupun saya juara kelas dan juara umum disekolah, tapi pemahaman terhadap ilmu agama bisa dibilang sangat minim. Orangtua saya bukannya tidak memberikan ilmu agama yang memadai buat kami, tapi saya saja yang dulu suka semau gue dan sering mangkir saat ngaji. Ayah dan mamak memang bukan seorang yang alim dan ahli ilmu agama, tapi mereka telah berusaha semaksimal kemampuan mereka mengajarkan saya serta dua saudari saya ilmu agama bahkan dengan mengantarkan kami kepada guru ngaji untuk hal-hal yang tidak mereka kuasai. Tapi, bukannya belajar, saya kecil malah suka kabur saat jam ngaji dan mampir  diam-diam ke rumah tetangga untuk nonton TV. Dari rumah ngaji, sampai sana kabur. Haha...(Astaghfirullahh)

Tamat SD entah kenapa saya malah sangat ingin mondok untuk  memperdalam ilmu agama yang selama ini saya sadari masih sangat minim, tapi niat saya pupus karena ayah  tidak mengizinkan. Beliau khawatir saya tidak bisa mandiri disana. Saya pun terus bertumbuh menjadi gadis manis dirumah dan di sekolah. Setiap pembagian raport, nilai saya selalu bertengger paling atas dan menjadi juara kelas. Tapi, saya merasa kering. Ilmu agama saya tetap segitu-gitu aja walaupun saya ngaji malam hari di balai pengajian dekat rumah. Amal ibadah saya juga sangat memprihatinkan. Jadi ibadah sunnah seperti dhuha, rawatib, dan tahajud, ibadah wajib pun alakadarnya bahkan sering bolong. Menutup aurat pun hanya saat sekolah dan ngaji saja, diluar itu saya tetap gadis tomboy dengan celana gombrong, baju kaos lengan pendek dan rambut kucir yang terhempas kesana kemari saat saya bersepeda atau manjat pohon. Padahal saat itu saya sudah baligh. Alhamdulillah,  Satu hal yang saya tetap terjaga, saya gak pernah bergaul dekat dengan lawan jenis apalagi pacaran seperti teman-temannya saya lainnya. Saya gak suka pacaran. Bagi saya pacaran itu sia-sia, buang-buang waktu dan gak ada manfaat sama sekali. Itu bertahan hingga saya lulus Sekolah menengah pertama dengan nilai terbaik disekolah. Modal nilai terbaik ini mengantarkan saya masuk sekolah  favorit di kota tetangga. Disanalah awal mula saya berjumpa dengan kakak-kakak yang wajahnya teduh, bercahaya dan sangat menenangkan tersebut. Mereka ayu dan anggun. Mereka santun dan berprestasi. Saya jatuh cinta sama mereka. Jatuh cinta pada pandangan pertama,hihi. Saya jatuh cinta dengan pakaian mereka yang sederhana, tertutup dan jilbab yang panjang berjuntai(seperti jilbab tokoh majalah Annida yang dulu ngehits banget dikalangan anak rohis). Pokoknya saya terpesona sama mereka. Adeeem banget lihatnya. Trus, apa saya langsung berubah sempurna sama persis seperti mereka hanya karena saya suka gaya dan akhlak mereka? Ya nggak lah. Saya gak mau berubah seketika tanpa pijakan yang jelas. Tanpa memahami. Tanpa ilmu. Tanpa proses. 

Bismillah. Gayung bersambut, kakak-kakak ayu dan sholihah itu, mengajak saya dan beberapa teman lainnya untuk ngaji bareng, kami biasa menyebutnya liqo. Seminggu sekali kami berkumpul di sekolah untuk ngaji dan saling sharing berbagai macam hal yang dipimpin oleh satu orang mentor yang kami sebut kakak murabbi. Mereka memang bukan ustadzah yang sudah sangat faqih ilmunya. Tapi, mereka berbagi apa yang mereka tahu dan mereka mengamalkannya. Pelan tapi pasti, pelan-pelan saya mulai berubah. Sholat wajib saya sudah gak bolong-bolong lagi, malah bertambah dengan yang sunah. Dhuha dan tahajud udah jadi kebiasaan. Begitu juga puasa sunah. Sesekali kami ifthar jama'i(buka puasa bersama) dirumah atau di kosan salah satu anggota. Kaos lengan pendek mulai berganti jadi kaos lengan panjang dan bergo instan sudah biasa bertengger di kepala setiap keluar pintu rumah ataupun dihadapan non muhrim. Celana gombrong panjang masih setia belum berganti dengan rok atau gamis. Pelan-pelan kaos kaki dan manset mulai setia menemani. Hingga akhirnya bisa menutup aurat dengan sempurna. 

Apakah semua berjalan mulus? Tentu tidak. Tapi, bukan saya namanya jika tak suka tantangan dan rintangan. Rintangan pertama berasal dari orang terdekat saya sendiri, ayah dan almarhum mamak(Allahuyarham). Walaupun mereka  bahagia melihat  perubahan  saya,  sikap saya  lebih santun dan lebih baik, amal ibadah harian semakin  baik, tapi mereka khawatir melihat cara saya berpakaian. Mereka takut saya ikut aliran sesat. Pakaian tertutup penuh dari atas sampai kaki. Buang sampah atau jemur pakaian saja di depan rumah pakai jilbab dan kaos kaki. Beli garam ke warung samping rumah pakai kaos kaki. Tidak mau salaman sama laki-laki yang bukan muhrim, padahal abang sepupu sendiri. Sedangkan, istri Tengku besar di sana saja tak berkaos kaki dan salaman sama semua tamu walaupun bukan muhrim. Begitulah pemikiran mereka. Saya berusaha menjelaskan sepemahaman saya tanpa merasa saya paling tahu dan tidak ingin sok pintar. Pelan tapi pasti, akhirnya mereka terbiasa dengan perubahan saya, malahan saya diberi kepercayaan lebih oleh mereka. Saya boleh nginap ditempat teman, karena mereka yakin saya gak akan macam-macam. Saya boleh pergi ke luar kota dengan teman-teman untuk baksos, yang biasanya susah banget dapat izin dari ayah untuk hal-hal seperti ini. 

Alhamdulillah, inilah sepenggal kisah perjalanan hijrah saya. Dan ini belum berhenti. Hijrah ini tetap berlangsung hingga akhir hayat. Belajar lagi dan belajar terus sehingga mampu berhijrah  menjadi pribadi yang semakin baik dari waktu ke waktu. Hingga detak jantung  berhenti.

Terimakasih kepada Mbak Icha atas tema arisan blog kali ini, sehingga saya bisa menorehkan sedikit catatan proses perjalanan hijrah saya. Ini menjadi  pengingat kembali bagi saya pribadi agar semakin baik dari waktu ke waktu, tidak menjadi manusia yang merugi apalagi celaka. Nastaghfirullahal 'adzhim...

3 komentar:

  1. Proses yang panjang dan berliku ya mba... semoga Istiqomah dan semakin baik setiap harinya....
    Sama mba dulu saya juga tomboy hehe..doakan saya juga ya mba😊😘

    BalasHapus
  2. Wah.
    termasuk cepet juga ya mba hijrahnya.
    gak nyangka dulu tomboy.
    jadi bayangin.
    hahahha

    BalasHapus
  3. wahhhhhh Annida... majalah kesukaan saya itu..... sekali duduk maunya baca langsung khatam xixixi

    BalasHapus

4 Permainan Seru Mengisi Family Time Ala Ismoe Family

Sabtu dan Minggu adalah hari favorit yang selalu dinantikan anak-anak dan juga saya pastinya. Mulai senin, setiap hari mereka akan bertanya...