Senin

Ummi, itu ada ALLAH!

Ummi, Itu Allah...

By Safriani

Lembaran buku Mengenal Allah

Suatu waktu ketika kami sedang membaca buku bersama, Ammar(3y) berteriak senang," Ummi, itu ada Allah". 
Ternyata dia melihat tulisan Allah didalam buku tersebut. Untuk usia ini, anak memang masih  berpikir konkrit. 

Ummi :"Oh iya, ini hanya tulisan nama Allah sayang. Kita belum bisa melihat Allah di dunia ".

Zaid : "Kapan kita bisa lihat Allah mi?"

Ummi :"IsyaAllah nanti orang-orang yang beriman, akan bisa melihat Allah di surga ", emak berusaha bicara dengan pelan agar mereka bisa meresapi kata perkata yang emak sampaikan, sambil menatap anak-anak dengan senyum.

" Jadi, kita harus jadi orang baik dan taat sama Allah, agar nanti bisa melihat wajah Allah, itu hadiah tambahan yang Allah berikan kepada penduduk surga, siapa yang mau masuk surga dan melihat Allah?"
Dan anak-anak pun berteriak berusaha menjadi yang pertama menjawab bahwa mereka ingin masuk surga dan melihat Allah. Alhamdulillah. 

My God id Allah


Percakapan seperti ini seringkali menghiasi hari-hari kami. Kami berusaha untuk mengaitkan setiap hal dengan Allah. Ketika makan, ini rezeki dari Allah. Ketika mau punya adik bayi lagi, ayo kita minta sama Allah. Ketika sakit, ayo kita berdoa agar disembuhkan oleh Allah, karena  semuanya Allah yang punya. Allah yang mampu memberikan. Allah yang menciptakan. 

Atau dilain kesempatan, ketika melihat bunglon di pohon jambu yang berubah warnanya saat hinggap di dedaunan , anak-anak takjub. Yang akhirnya  diakhiri dengan kesimpulan indah, alangkah hebatnya ciptaan Allah. Ciptaan Allah aja hebat dan keren ya, apalagi penciptanya, pastinya lebih hebat. Allah itu Maha hebat. 

Abg Zaid, Ammar, dan Baby Hamzah

Usia 0-6 tahun merupakan masa anak memiliki rasa ingin  tahu yang besar tentang apapun, begitu pula tentang Allah, sang pencipta yang seringkali kami sebut-sebut diberbagai waktu, tempat dan kondisi. Dan masa ini juga merupakan masa-masa yang baik untuk merawat fitrah keimanan mereka dengan membangun imaji imaji keindahan tentang Allah, tentang Rasulullah SAW, tentang Islam dan kebaikan lainnya sehingga nantinya mampu melahirkan kesan dan cinta yang mendalam dalam diri mereka. 

Masa ini adalah tahap emas untuk mengenalkan Allah, Rasulullah SAW dan kebaikan kebaikan Islam. Pada masa ini Anak sedang pada puncak imaji dan abstraksinya, alam bawah sadarnya masih terbuka lebar, maka mengenalkan apapun tentang kebaikan apalagi dengan cara berkesan akan masuk ke dalam bawah sadarnya dan menguatkan fitrahnya. 

Kita ketahui bahwa Anak lahir dalam keadaan fitrah. Ketika lahir, dalam diri mereka telah terinstal fitrah keimanan kepada sang Khaliq. Tugas kita para orangtua hanyalah merawatnya  agar fitrah keimanan anak tumbuh subur, bukan malah mengkerdilkan bahkan mematikan fitrah tersebut. Jangan pernah khawatir bahwa anak tidak akan paham ketika kita berbicara dan menjelaskan tentang Allah kepada anak-anak. Allah itu apa? Allah itu siapa? Allah dimana?, Dll. 
Jangan remehkan kehebatan makhluk-makhluk kecil tersebut. 

Ketika anak bertanya tentang ALLAH, ini menjadi momen paling krusial yang kita hadapi sebagai orangtua. Berhati-hatilah dalam memberikan jawaban atas pertanyaan maha penting ini. Salah sedikit saja, bisa berarti kita menanam benih kesyirikan dalam diri buah hati kita. Nauzubillahi min zalik. Oleh karena itu, kita sebagai orangtua juga harus terus dan selalu belajar serta berdoa agar lisan kita mampu menjawab segala ingin tahu anak terlebih tentang penciptanya dengan benar dan tepat. 

Tulisan ini saya buat dalam rangka Arisan tulisan  dengan tema "Siapakah Allah?" yang di usung oleh Mb Ulfa πŸ˜Š
Jazakillah Khair mb, semoga tulisan ini bermanfaat. 



Kamis

DIY Counting Board

Bismillahirrahmanirrahim...

Alhamdulillah, akhirnya jadi juga merealisasikan  keinginan untuk membuat alat belajar mengenal angka untuk Ammar(3y) yang sudah lama tertunda. Salah satu kegemaran emak adalah mengumpulkan barang-barang bekas yang kiranya masih mempunyai nilai manfaat ketika diolah kembali, salah satunya kardus bekas apapun yang masih bagus, pasti masuk gudang penyimpanan emak dirumah. πŸ˜‚ Tapi, seringnya bahan-bahan itu terus menumpuk di rumah, yang entah kapan punya waktu untuk mengeksekusinya,. Hal ini disebabkan waktu luang yang sangat langka, sehingga akhirnya keinginan itu selalu tertunda beberapa lamanya. Maklum, emak artis sok sibuk 😁

Nah, kebetulan Rumah Belajar Craft IIP Batam mengadakan challenge Keluarga IIP Batam untuk membuat karya dari bahan dasar kardus, ini kesempatan langka buat emak yang tak boleh disia-siakan. Walaupun waktunya sangat mepet gak sampai seminggu, emak berusaha untuk bisa ikutan challenge ini. Malam kemarin akhirnya mengadakan family forum untuk membicarakan tantangan ini. Alhamdulillah semua sepakat. Ini jadi proyek keluarga kami kali ini. Tanpa banyak basa-basi basi, esoknya yabi menemani untuk beli beberapa bahan yang sudah habis dirumah, salah satunya lem tembak. 

Pagi ini setelah yabi berangkat kerja, kamipun mulai eksekusi. Semuanya kebagian tugas, termasuk baby hamzah jadi pemantau dan pengaman keadaan. Haha..karena kalau baby hamzah rewel, proyek ini juga bakalan tertunda lama lagi, padahal hari ini adalah deadline challengenya.  


Setelah mempersiapkan semua bahan, ummi kumpulin anak-anak yang pagi tadi masih tercerai berai.πŸ˜‚ Abang Zaid sedang gunting rumput di depan rumah, Abg Ammar sedang main air dikamar mandi. Dan Baby Hamzah sedang ngoceh sendirian di kamar. 

Abang Zaid dan Ammar sudah siap memulai proyek

Alat dan Bahan

Tepat Pukul 09.00 WIB, proyek pun dimulai. Emak bertugas potong-potong kardus sesuai pola menggunakan cutter dan gunting. Abang Zaid kebagian tugas membuat pola angka, menebalkan dengan spidol dan menempel pasir. Abg Ammar bertugas mewarnai Cutton Bud yang akan dijadikan salah satu alat berajar berhitung. 



Alhamdulillah semua menikmati tugas masing2 dan berjuang semaksimal mungkin untuk menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawab mereka. Ammar yang bertugas mewarnai Cutton Bud mengeluh capek dan pegal. Karena kasian karena si tengah memang sedang kurang sehat, emak minta dia untuk istirahat saja. Dan sisanya biar ummi yang nanti lanjutkan. Tetapi, ternyata Ammar menolak, dan dia tetap berusaha menyelesaikan tugasnya. Bahkan, ketika jam 11 proyeknya  selesai pun, dia tetap berinisiatif untuk  membereskan rumah  yang berantakan  tanpa disuruh. MasyaAllah, Barakallah neuk. Semoga engkau  terus menjadi yang bertanggung jawab dan pantang menyerah hingga dewasa kelak. 

Abang Zaid sedang menebalkan angka dengan spidol


Ammar sedang mewarnai cutton Bud walaupun kelelahan

Tanpa komando setelah proyek selesai segera ambil sapu dan membersihkan ruangan


Yeay..akhirnya kita punya alat peraga belajar berhitung yang baru dari bahan bekas dan hasil karya emak dan anak2 yang terinspirasi dari Mb Uchy. Lumayan irit dan hemat ya kan ;-)

Kartu angka dari pasir untuk sentuhan dan cutton Bud untuk berhitung serta mereview warna

Counting Board ( Cara penggunaan)

Abang Zaid yang semangat main, Ammar sudah tepar
#KeluargaIIPBatam
#ChallegeKeluargaIIPBatam

Melatih Kemandirian Anak2# "Aku Bisa Makan Sendiri"

"Aku Bisa Makan Sendiri"

Makan sendiri merupakan salah satu kemandirian yang sangat perlu dilatih sejak dini. Zaid dan Ammar sejak umur 2 tahun sudah dilatih makan sendiri. 

Diantara sekian latihan kemandirian, Zaid dan Ammar paling lama lulus di point makan sendiri. Setelah direwiew, ternyata penyebab lamanya lulus di point ini karena campur tangan emaknya juga πŸ˜€

Emaknya kurang sabar kalau lihat anak-anak makannya lamaaaa banget dan menyisakan makanan. Kalau cuma kotor emak masih woles aja, tapi kalau makanannya bersisa emak tengsin gimana gitu. walaupun selalu disounding agar mengambil makanan sesuai dengan porsi perut masing-masing agar tidak bersisa dan mubazir, tetap aja bersisa, ujung-ujung biar gak mubazir masuk perut emak, akhirnya emak makin lebar, gimana gak tengsin coba 😁. 

Anehnya kalau disuapin, anak-anak makannya lahap, efek tangan emak sepertinya, yang bisa mengubah rasa masakan jadi istimewa 😜. Penyebab lainnya, karena kalau lagi diluar, emak juga lebih milih nyiapin biar tetap bersih daripada mengotori tempat umum, gak enakan aja rasanya. 

Selama beberapa hari kemarin, emak mencoba rutin lagi melatih anak-anak makan sendiri. Terutama Abang Zaid yang sebulan lagi usianya genap 5 tahun. Kalau Ammar juga dilatih sih, tapi mengingat BBnya sekarang sudah digaris kuning, emak harus memastikan makannya cukup. Sambil pelan-pelan dilatih juga. 

Alhamdulillah hari ini  sarapan dan makan malam Zaid berhasil makan sendiri, walaupun masih bersisa dan agak drama awalnya. Minta potong-potong ini ikan lah, minta sendokin nasinya lah,wkwk..banyaknya akalmu neuk,biar emak makan lewat tangan emak. 

Abang Zaid makan sendiri

Makan siang gagal karena disuapin yabi. Alasannya karena yabi mau pergi lama, jadi minta suapin sama yabi. Wkwkwk...okelah emak ngalah kali ini. Besok kita coba lagi ya neuk, besok yabi juga gak dirumah, emak juga bakalan rempong sendirian karena yabi gak dirumah, gak ada yang bantuin. Bantuan Emak ya neuk, besok makan sendiri lagi. Semoga ada kemajuan.

#Harike2
#Tantangan10Hari
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Senin

Melatih Kemandirian#5 "Ummi, Abang ngepel ya?"

Hari ini mencoba salah satu kemandirian lain yang kami targetkan kepada anak-anak, untuk Abnah Zaid ditargetkan doi sudah mampu untuk merapikan tempat tidur dan menyapu kamar. Sedangkan untuk Abang Ammar targetnya sudah mampu merapikan mainannya setelah bermain dan meletakkan pada tempatnya.

Minggu

Melatih Kemandirian Anak#4 " Horrey...Tantangan 1 Sukses!!! "

  Alhamdulillah tantangan melatih Abang Zaid makan sendiri bisa dibilang cukup berhasil, tinggal konsisten saja dalam penerapannya. Ini PR buat emak agar tidak mudah goyah dan kasihan kalau anak malas makan jika tidak disuapin. Pelajaran selama melatih point ini,emak cukup tawarkan anak untuk makan, jika anak belum mau karena belum lapar atau masih asyik bermain, emak biarkan saja dulu. Jika anak sudah lapar nantinya dia juga akan makan sendiri tanpa perlu disuruh apalagi disuapin. Seperti hari ini, karena migran emak kumat dan yabi juga sedang keluar kota, jadinya emak gak masak. Emak minta tolong bunda Emy antarin ke RM Simpang Ampek untuk beli nasi Padang ayam serundeng kesukaan anak-anak. Ketika tiba di rumah, emak tawarin mereka makan. 

Ummi : " Abang, mau makan sekarang atau sebentar lagi? Mumpung nasinya masih hangat."

Abang : " Nanti aja ummi, Aid masih capek, gerah kali mi"

Ummu : " Baiklah, nanti kalau udah gak gerah, makan terus ya. Nasinya di atas meja, ummi tidurin Dede Hamzah dulu"

Gak lama setelah Baby Hamzah tidur, ummi keluar kamar. Ternyata Abang Zaid dan 'Ammar lagi makan nasi sebungkus berdua dengan lahap. Pemandangan yang bikin emak berbinar 😍😘. Cepat2 lari ke kamar buat ambil Hp dan cekrek πŸ˜‚

Aku makan sendiri
Lahapnya 😍😘


Good Job dear...point ini emak anggap lulus ya sambil terus dilatih agar semakin konsisten. Besok kita lanjut melatih kemandirian lainnya seperti hasil kesepakatan kita tadi sore. Mulai besok kita belajar membersihkan kamar dan meletakkan barang pada tempatnya ya. Kita belajar bersama ya neuk. Semangat ✊😘



Sabtu

Melatih Kemandirian Anak#4 " Kita lawan malasnya yuk, Anak keren. Bukan anak permarah!"

Merubah suatu kebiasaan memang bukan hal yang gampang dan semudah membalik telapak tangan. Apalagi jika kebiasaan itu sudah bertahun-tahun, bahkan selama hidup dan sudah mendarah daging. Tapi, tidak ada yang tidak mungkin bukan. Ala bisa karena biasa.

Sesuatu yang tidak baik sangat  perlu dirubah. Terlebih lagi yang berkaitan erat dengan kebaikan seseorang  dimasa depan nantinya. Kuncinya sebenarnya mudah,  hanya perlu latihan, latihan, dan latihan serta istiqomahlah. Tapi pelaksanaannya tidak semudah ucapan. :-D

Hari ini saya masih melatih point makan sendiri untuk Abang Zaid. Alhamdulillah kemajuannya pesat. Bangun tidur pagi ini anak-anak saya ajak untuk mandi, cut bang Zaid tanpa banyak protes segera mandi. Kemudian request sarapan nasi goreng. Cas cis cus, dalam sekejap nasi goreng sudah matang dan siap disantap. Belum sempat emak hidangkan, panggilan darurat dari kamar memanggil. Iyess..Baby Hamzah,kesayangan keluarga, menangis. Terpaksa emak segera menenangkan sibaby.

Syafri sayang, mari berbenah dan istiqomahlah!


    Menjalani peran sebagai Full Mother at Home ternyata tidak serta merta menjadikan hubungan saya dengan anak-anak Seiya sekata. Dua puluh empat jam setiap hari saya berinteraksi bersama mereka, tentunya komunikasi kami pasti intens. Tetapi, selama ini saya merasa masih ada yang kurang dalam hubungan kami. Ada yang tidak ngeklik. Kadang saya merasa lelah dan gagal menjadi ibu, ketika hal-hal yang saya sampaikan dan saya harapkan dari anak-anak, ternyata tidak ditangkap dan tidak ada feedback sesuai yang saya harapkan. Saya lelah berkutat di permasalahan yang sama saban waktu dan hari. Saya harus temukan solusinya. 


    Hingga akhirnya saya bertemu dengan Institut Ibu Professional  Setelah berjibaku di program komukasi, anatkannikasi produktif sebagai materi perdana di kelas Bunda Sayang dan berusaha konsisten menjalaninya dalam sebulan ini, saya jadi sadar masih banyak sekali kesalahan saya dalam berkomunikasi, terutama dengan anak-anak. Selama ini saya memang berkomunikasi dengan mereka, tetapi ternyata bukan komunikasi produktif. 

Jumat

Melatih Kemandirian Anak#3, " Ayo berlatih lagi "

Memasuki hari ke#3 tantangan melatih kemandirian, emak masih harus berjuang. Karena ditinggal Abi keluar kota selama beberapa hari, emak dan 3 krucils terpaksa ngungsi kerumah Bunda Emy. Bukan karena gak berani dirumah ya 😁 (Emak kan setrong).  Cutbang Ammar(3y) dan Baby Hamzah(4m) sedang sakit Batpil disertai demam, khawatir jika anak2 rewel barengan tengah malam dan harus mendiamkan sendirian, emak bakalan ikut nangis juga nanti 😂.

Bangun pagi anak-anak udah kelaparan, karena tadi malam tiba  ke rumah  dari RS sudah pukul 20.00 WIB dan mereka belum makan malam. Sampai rumah  mereka udah ngantuk berat, terutama Cut bang Ammar, jadi cuma makan beberapa suap saja sebagai pengganjal perut. Cut Bang  Ammar emak putuskan disuapin karena sudah ngantuk berat, daripada gak makan sedikitpun lebih bahaya.

Abangda Zaid walaupun juga sudah ngantuk tapi masih tetap semangat. Tidak lain dan tidak bukan karena menunya adalah menu kesukaannya, nasi goreng bumbu Aceh. Satu lagi karena makan bersama.  Alhamdulillah keduanya berhasil makan sendiri.

Hari ini sukses, semoga besok dan seterusnya semakin baik ya Neuk 😊
Ganbatte!!

#Harike3
#Tantangan10Hari
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Kamis

Melatih Kemandirian#1 "Ayo berlatih dan berproses bersama"

Bismillahirrahmanirrahim..

Alhamdulillah materi kedua di Kelas Bunda Sayang Batch 3 Institut Ibu Professional sudah selesai dikunyah dan dilahap dengan semangat. Saya sangat bahagia karena materi kali ini juga sangat sesuai dengan kebutuhan keluarga saya saat ini. Bukan hanya materinya yang membuat fikiran semakin tercerahkan, tetapi Game Level 2 ini juga sangat pas. Saat ini saya sedang berusaha keras melatih kemandirian untuk anak-anak di beberapa hal yang masih belum konsisten. Dengan adanya tantangan di game kali ini, akhirnya kami sepakat untuk kembali merumuskan ulang dan detail serta berupaya untuk mendokumentasikan proses melatih kemandirian anak-anak kali ini. 

Dari hasil family forum sederhana kami tadi malam sebelum tidur πŸ˜€ , kami sepakat dan telah mencatat point-point yang akan kami berusaha terapkan  bersama. Point yang menjadi fokus kami adalah hal-hal yang sebenarnya anak-anak sudah bisa namun tidak konsisten disebabkan berbagai alasan. Tantangan kami kali ini adalah di konsistensi. 

Diantara beberapa list kemandirian yang akan kami latih dalam bulan ini untuk Abang Zaid dan Ammar yaitu ,
1. Makan Sendiri
2. Bangun sebelum subuh
3. Mengambil handuk sebelum mandi dan melafalkan kembali ke jemuran handuk

Alhamdulillah, sebenarnya mereka termasuk anak-anak yang sangat mandiri. Entah karena jarak usia yang dekat, sehingga ketika adiknya lahir mereka terbiasa melakukan hal-hal keseharian dengan mandiri, seperti mandi sendiri, cebok (untuk point ini Ammar baru lulus untuk masalah BAK), makan sendiri pakai dan buka pakaian, memakai sepatu, melipat pakaian kecil, membereskan mainan,dan hal-hal sederhana lainnya.



#Harike1
#Tantangan10Hari
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

RESUME Diskusi MATERI LEVEL#2 Melatih Kemandirian Anak

*MELATIH KEMANDIRIAN ANAK*

_Mengapa melatih kemandirian anak itu penting?_
Kemandirian anak erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Sehingga apabila kita ingin meningktkan rasa percaya diri anak, mulailah dari meningkatkan kemandirian dirinya.
Kemandirian erat kaitannya dengan jiwa merdeka. Karena anak yang mandiri tidak akan pernah bergantung pada orang lain. Jiwa seperti inilah yang kebanyakan dimiliki oleh para enterpreneur, sehingga untuk melatih enterpreneur sejak dini bukan dengan melatih proses jual belinya terlebih dahulu, melainkan melatih kemandiriannya.
Kemandirian membuat anak-anak lebih cepat selesai dengan dirinya, sehingga ia bisa berbuat banyak untuk orang lain.
_Kapan kemandirian mulai dilatihkan ke anak-anak?_
Sejak mereka sudah tidak masuk kategori bayi lagi, baik secara usia maupun secara mental. Secara usia seseorang dikatakan bayi apabila berusia 0-12 bulan, secara mental bisa jadi pola asuh kita membiarkan anak-anak untuk selalu dianggap bayi meski usianya sudah lebih dari 12 bulan.
Bayi usia 0-12 bulan kehidupannya masih sangat tergantung pada orang lain. Sehingga apabila kita masih selalu menolong anak-anak di usia 1 th ke atas, artinya anak-anak tersebut secara usia sudah tidak bayi lagi, tetapi secara mental kita mengkerdilkannya agar tetap menjadi bayi terus.
_Apa saja tolok ukur kemandirian anak-anak?_
☘ *Usia 1-3 tahun*
Di tahap ini anak-anak berlatih mengontrol dirinya sendiri. Maka sudah saatnya kita melatih anak-anak untuk bisa setahap demi setahap meenyelesaikan urusan untuk dirinya sendiri.
Contoh :
✅Toilet Training
✅Makan sendiri
✅Berbicara jika memerlukan sesuatu
πŸ”‘ *Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak-anak di usia 1-3 th  adalah sbb :*
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦ Membersamai anak-anak dalam proses latihan kemandirian, tidak membiarkannya berlatih sendiri.
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦ Mau repot di 6 bulan pertama. Bersabar, karena biasanya 6 bulan pertama ini orangtua mengalami tantangan yang luar biasa.
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦Komitmen dan konsisten dengan aturan
Contoh:
_Aturan berbicara_ :
Di rumah ini hanya yang berbicara baik-baik yang akan sukses mendapatkan apa yang diinginkannya.
Maka jangan pernah loloskan keinginan anak apabila mereka minta sesuatu dengan menangis dan teriak-teriak.
_Aturan bermain_:
Di rumah ini boleh bermain apa saja, dengan syarat kembalikan mainan yang sudah tidak dipakai, baru ambil mainan yang lain.
Maka tempatkanlah mainan-mainan dalam tempat yang mudah di ambil anak, klasifikasikan sesuai kelompoknya. Kemudian ajarilah anak-anak, ambil mainan di tempat A, mainkan, kembalikan ke tempatnya, baru ambil mainan di tempat B. Latih terus menerus dan bermainlah bersama anak-anak, jadilah anak-anak yang menjalankan aturan tersebut, jangan berperan menjadi orangtua. Karena anak-anak akan lebih mudah mencontoh temannya. Andalah teman terbaik pertama untuknya.
☘ *Anak usia 3-5 tahun*
Anak-anak di usia ini sedang menunjukkan inisiatif besar untuk melakukan kegiatan berdasarkan keinginannya
Contoh :
✅ Anak-anak lebih suka mencontoh perilaku orang dewasa.
✅Ingin melakukan semua kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya
πŸ”‘ *Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia 3-5 th adalah sbb :*
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦Hargai keinginan anak-anak
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦Jangan buru-buru memberikan pertolongan
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦ Terima ketidaksempurnaan
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦ Hargai proses, jangan permasalahkan hasil
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦ Berbagi peran bersama anak
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦ Lakukan dengan proses bermain bersama anak
Contoh :
✅Apabila kita setrika baju besar, berikanlah baju kecil-kecil ke anak.
✅Apabila anda memasak, ajarkanlah ke anak-anak masakan sederhana, sehingga ia sdh bisa menyediakan sarapan untuk dirinya sendiri secara bertahap.
✅Berikanlah peran dalam menyelesaikan kegiatannya, misal manager toilet, jendral sampah dll. Dan jangan pernah ditarget apapun, dan jangan diberikan sebagai tugas dari orangtus. Mereka senang mengerjakan pekerjaannya saja itu sudah sesuatu yang luar biasa.
☘ *Anak-anak usia sekolah*
Apabila dari usia 1 tahun kita sudah menstimulus kemandirian anak, maka saat anak-anak memasuki usia sekolah, dia akan menjadi pembelajar mandiri. Sudah muncul internal motivation dari dalam dirinya tentang apa saja yang dia perlukan untuk dipelajari dalam kehidupan ini.
⛔Kesalahan fatal orangtua di usia ini adalah terlalu fokus di tugas-tugas sekolah anak, seperti PR sekolah,les pelajaran dll. Sehingga kemandirian anak justru kadang mengalami penurunan dibandingkan usia sebelumnya.
πŸ”‘ *Kunci orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia sekolah*
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦Jangan mudah iba dengan beban sekolah anak-anak sehingga semua tugas kemandirian justru dikerjakan oleh orangtuanya
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦Ijinkan anak menentukan tujuannya sendiri
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦Percayakan manajemen waktu yang sudah dibuat oleh anak-anak.
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦Kenalkan kesepakatan, konsekuensi dan resiko
Contoh :
✅Perbanyak membuat permainan yang dibuatnya sendiri ( DIY = Do It Yourself)
✅Dibuatkan kamar sendiri, karena anak-anak yang mahir mengelola kamar tidurnya, akan menjadi pijakan awal kesuksesan ia dalam mengelola rumahnya kelak ketika dewasa.
πŸ“Œ *Ketrampilan-ketrampilan dasar yang harus dilatihakan untuk anak-anak usia sekolah ini adalah sbb:*
1⃣Menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya
2⃣Ketrampilan Literasi
3⃣Mengurus diri sendiri
4⃣Berkomunikasi
5⃣Melayani
6⃣Menghasilkan makanan
7⃣Perjalanan Mandiri
8⃣Memakai teknologi
9⃣Transaksi keuangan
πŸ”ŸBerkarya
πŸ“Œ *3 Hal yang diperlukan secara mutlak di orangtua dalam melatih kemandirian anak adalah :*
1⃣Konsistensi
2⃣Motivasi
3⃣Teladan
_*Silakan tengok diri kita sendiri, apakah saat ini kita termasuk orangtua yang mandiri?*_
πŸ“Œ *Dukungan-dukungan untuk melatih kemandirian anak*
1⃣Rumah harus didesain untuk anak-anak
2⃣Membuat aturan bersama anak-anak
3⃣Konsisten dalam melakukan aturan
4⃣Kenalkan resiko pada anak
5⃣Berikan tanggung jawab sesuai usia anak
_Ingat, kita tidak akan selamanya bersama anak-anak. Maka melatih kemandirian itu adalah sebuah pilihan hidup bagi keluarga kita_

Salam,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/
_Sumber bacaan_:
_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, antologi, gaza media, 2014_
_Septi Peni, Mendidik anak mandiri, pengalaman pribadi, wawancara_
_Aar Sumardiono, Ketrampilan dasar dalam mendidikan anak sukses dan bahagia, rumah inspirasi_
[28/11 08.45] ‪+62 812-1287-1755‬: *Tantangan 10 hari  Melatih Kemandirian Anak*
_(Periode 30 Nov - 16 Des 2017)_
Selamat datang di game tantangan kedua
πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰

Dalam tantangan 10 hari di materi kemandirian  kali ini, kita akan memberikan apresiasi kemandirian dalam beberapa kategori yaitu:
πŸŽ€ Bagi Anda yang sudah memiliki putra/i 
πŸŽ€ Bagi Anda yang ingin melatih kemandirian berdua dengan pasangan karena di rumah belum ada anak-anak 
πŸŽ€ Dan Bagi Anda yang masih single
❓❓❓
Bagaimana caranya?

1. Pilih *satu orang saja* selama melakukan tantangan ini. 
❤Bagi Anda yang telah memiliki anak, pilih salah satu dari anak Anda, 
❤ Bagi Anda yang belum memiliki anak, jadikan Anda dan atau pasangan Anda sebagai rekan melakukan tantangan
❤ Bagi Anda yang belum menikah, jadikan diri Anda yang melakukan tantangan ini
2. Buatlah list kemampuan kemandirian apa saja yang ingin Anda latihkan
3. Buatlah program _One Week One Skill_. Dalam satu bulan ini *min*. melatih 1 kemandirian dan *max*. 4 kemandirian.
4. Dokumentasikan proses yang Anda lakukan terkait :
πŸ“Ή Kemandirian anak ➡πŸ‘ͺ
πŸŽ₯ Kemandirian Anda dan atau pasangan ➡πŸ’‘
πŸ“½ Kemandirian diri Anda sendiri➡πŸ‘©πŸ»
Bisa dalam bentuk foto dengan caption atau tulisan narasi  yang Anda posting setiap hari,  minimum selama 10 hari dan max. tak berbatas waktu, tergantung komitmen yang Anda buat.

🎁🎁🎁
Bagi Anda yang berhasil menyelesaikan tantangan ini akan memperoleh badge dasar, baik lompat-lompat hari atau dirapel selama 10 hari sejak tgl 30 nov sampai tanggal 16 Desember 2017.
🎁🎁🎁
Bagi Anda yang berhasil melaksanakan tantangan tanpa dirapel, tanpa loncat-loncat hari selama 10 hari berturut-turut. Maka akan mendapatkan tambahan badge:
*_"You're excellent"_*
🎁🎁🎁
Bagi Anda yang berhasil konsisten 10 hari berturut-turut lalu melanjutkan hingga minimal 15 hari berikutnya tanpa rapel, tanpa loncat hari, maka akan mendapatkan tambahan badge :
*_"You're outstanding performance”_*
Dan mendapatkan kesempatan untuk masuk pertukaran pelajar (perpel).

5. Posting dokumentasi Anda di Blog atau Platform lainnya, disertai hashtag :
#Harike...
#Tantangan10Hari
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian
Dan bagi yg di blog, tambahkan kategori/label :
Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Profesional
IIP
πŸ“ Setorkan link tulisan anda ke http://bit.do/gamelevel2
πŸ“ˆ Lihat realtime seluruh laporan Anda di http://bit.do/SetoranGameLevel2 
Jika mengalami kendala teknis, hubungi Koordinator Bulanan ya.
Selamat bermain
x

Selasa

Maafkan ummi, Neuk



Adalah suatu kebahagiaan ketika pertama kali mengetahui bahwa di dalam rahim ummi, telah ada sebuah janin. Sebulan setelah menikah dengan yabi, tiba-tiba ummi mulai sering mual, gak bisa nyium makanan atau apapun yang berbau tajam, bawaannya lemes. Segera yabi membeli tespack di apotik, besok paginya ummi pun segera tes, hasilnya seperti dugaan, dua garis bertengger di alat tersebut. Bahagia pasti. Cemas juga iya. Ummi akan segera jadi ibu. Status Single yang baru sebulan berubah menjadi istri, tak lama lagi InsyaAllah juga akan bertambah menjadi seorang Ibu. Akankah ummi mampu menjadi ummi yang baik bagimu dan adik-adikmu kelak? Walaupun seabreg buku parenting juga sudah ummi lahap jauh sebelum Ummi dan yabi ditaarufkan hingga saat kamu tersemai dirahim ummi. Tapi, kecemasan itu tetap berkecamuk di dada ummi. Karena yang ummi tahu, teori dengan praktek tak akan 100% sama. Bismillah, hanya tawakkal dan berdoa kepada Allah setelah ikhtiar bekal ilmu sudah ummi persiapkan. Hingga 8 bulan kemudian kamu hadir dalam kehidupan ummi setelah melewati hari yang panjang dan melelahkan ketika proses persalinan. Sakit...sakit sekali rasanya. Badan ummi gemetaran dan menggigil hebat sore itu. Tekanan darah ummi yang biasanya normal di angka 100-110/70 tiba-tiba naik drastis menembus 190. Bukaan tak kunjung maju bertahan di bukaan 4. Ahh..tak mampu ummi gambarkan rasa sakitnya, kesakitan yang belum pernah ummi rasakan selama 22 tahun ummi lahir ke dunia. Hingga akhirnya pukul 22.00, tangisanmu memecahkan kesunyian malam itu. Semua sakit seakan sirna, tersihir dan terpesona dengan hadirmu. Ummi akhirnya menjadi seorang ibu. Doa panjangpun segera berhamburan dari lisan ummi memohon kepada zat yang menggenggam jiwa agar kebaikan selalu tercurah atasmu wahai permata hati ummi.

Mulai hari itu, sah sudah status ibu tersandang di pundak ummi. Hal pertama yang ummi dan yabi lakukan setelah yabi mengazanimu, adalah menyematkan nama untukmu. Nama indah yang mengandung makna kebaikan. FAWWAZ ZAID AKRAM. Iya, kami sematkan nama salah satu sahabat mulia dalam penggalan namamu sebagai doa agar keimanan, ketaqwaan dan akhlakmu seperti akhlak sahabat mulia itu. Mengikuti rasul mulia Muhammad SAW.

Hari demi haripun ummi dan yabi lalui neuk, mendidik dan membersamai tumbuh kembangmu.  Bahkan ummi rela resign dari kerjaan ummi agar sepanjang waktu ummi bisa bersamamu dan mempunyai kesempatan melihat satu persatu perubahan demi perubahan yang kamu capai.

Tak lama lagi usiamu akan genap 5 tahun sayang. Iya, 16 Desember nanti usiamu genap 5 tahun.
Sangat banyak kesalahan ummi dan yabi terhadapmu neuk. Kamu yang menjadi tempat pertama kali ummi dan yabi uji coba semua teori parenting yang ummi dan yabi dapatkan. Kamu lahir ketika ummi dan yabi masih sama-sama baru saling mengenal dan menyesuaikan karakter dan kepribadian masing-masing. Kamu lahir ketika perekonomian keluarga kita masih terombang ambing. Bahkan tak lama berselang adikmu pun lahir, sehingga perhatian ummi dan yabi juga harus terbagi. Ketika usiamu baru menginjak 2 tahun, ummi dan yabi sudah membebaniku dengan tanggung jawab sebagai seorang kakak.

Tapi, percayalah sayang, bahwa walaupun  perhatian ummi dan yabi terbagi, tapi kasih sayang ummi dan yabi tak berkurang sedikit pun. Kasih sayang ummi dan yabi tetap 100% tercurah kepada masing-masing kalian. Ummi dan yabi tak pernah sedikitpun membanding-bandingkan kalian.

Ummi bangga padamu neuk. Kamu anak yang sangat mandiri. Bahkan sangat senang membantu  ummi tanpa ummi suruh. Menjadi asisten ummi ketika adik-adik lahir. Dan itu sangat berharga dengan kondisi kita yang merantau jauh dari keluarga serta tak punya ART.

Terimakasih sayang, terima kasih sulungku,terimakasih sudah memilih ummi menjadi ibumu. Maafkan atas semua kesalahan ummi dalam mendidik dan membesarkanmu. Bantu ummi dan yabi ya neuk, agar menjadi orangtua yang semakin baik. Mari kita belajar dan bertumbuh bersama. Full love for U ya Aulady.

Jazakillah Khair juga kepada mbak Juli yang menang arisan Rulis kali ini dan mengangkat tema "Ungkapan hati untuk buah hati" sehingga tulisan ini bisa hadir dan menjadi pengingat saya kembali agar banyak-banyak minta maaf kepada si Sulung.

Minggu

ALIRAN RASA KELAS BUNDA SAYANG "KOMUNIKASI PRODUKTIF"

Alhamdulillah, hampir sebulan berada di Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Professional. Materi pertama, kami dihadapkan dengan tema "Komunikasi Produktif".  Di materi komunikasi Produktif ini, saya belajar bahwa jika saya mengharapkan orang lain faham sesuai dengan apa yang saya sampaikan, maka saya harus bisa menyampaikan dengan baik, saya harus faham dan mampu mengkomunikasikan maksud saya dengan  benar. Iyess..komunikasi produktif, terutama kepada orang-orang terdekat saya, yaitu suami, anak-anak, dan orangtua. Setelah meriview perjalanan kehidupan rumah tangga saya sejak awal menikah hingga saat ini Allah amanahi 3 buah hati, ternyata masih sangat banyak kesalahan dari cara berkomunikasi saya. Inilah juga penyebab hadirnya sedikit riak-riak kecil diperjalanan keluarga kami. Kesalahpahaman yang dulu kerap terjadi hingga berujung tangisan di malam hari karena kekesalan terhadap sikap suami, ternyata lebih banyak muncul karena kesalahan saya berkomunikasi. Maklum pengantin baru yang mengenal suami pertama kali setelah saat ijab Qabul. πŸ˜‚ Begitu juga terhadap anak-anak, seringkali anak-anak tidak menurut atau mendengar keinginan kami, ternyata cara maupun waktu penyampaiannya yang masih kurang tepat.

Setelah hampir sebulan ini berusaha menjalani tantangan Komunikasi produktif dengan anak-anak dan pasangan,







Sabtu

Portofolio anak oleh Ust Harry Santosa


Portfolio Pendidikan Anak

Baik anak bersekolah maupun tidak, tidak mengurangi sedikitpun tanggungjawab orangtua untuk mendidik anaknya. Permulaan tahun ini barangkali teman teman AyahBunda perlu untuk mulai mengembangkan Portfolio Pendidikan Anak. Para Guru nampaknya juga memerlukan portfolio siswanya yang dibuat oleh orangtua sehingga ada kerjasama dan sinergi.

Apa itu Portfolio Pendidikan Anak?

Hari ini portfiolio pendidikan semakin dibutuhkan. Portfolio ini sebenarnya adalah laporan dan dokumentasi perkembangan anak termasuk bukti (evidence) berupa karya, hasil kerja, atau capaian anak. Portfolio dalam bentuk primitif nya disebut Raport. ,

Raport yang kita kenal hampir satu abad lebih itu, dianggap sudah tidak relevan lagi dengan zaman maupun relevan dengan aspek potensi keunikan dari tiap anak yang berbeda. Karena Raport pada umumnya tidak dapat menggambarkan keseluruhan perkembangan dan capaian anak dalam pendidikan.

Portfolio atau sering ditulis dengan “Portofolio” sendiri berasal dari kata Port (laporan) dan Folio (penuh atau lengkap), yang artinya laporan yang lengkap dan menyeluruh. Intinya, karena setiap anak secara individual diakui “unique” baik dalam potensi, gender, perkembangan, kebutuhan, skill dan knowledge relevan, serta perkembangan sikap maka Portfolio ini diperlukan.

Karenanya Portfolio Pendidikan anak ini bukan sekedar Folder atau kotak yang berisi halaman evaluasi penilaian dan dokumentasi serta hasil karya anak apalagi hanya akademis semata, namun juga refleksi atas pola perkembangan dan capaian anak.

“Refleksi adalah hasil observasi, empati, analisa, dari sebuah kegiatan atau proyek pendidikan anak”. Jika dahulu hanya fasilitator yang mengisi seperti Guru atau Coach, sekarang orangtua, anak dan semua yang terlibat bisa menuliskan hasil refleksinya.

Mengapa Kita Memerlukan Manfaat Membangun Portfolio Anak

Dengan membangun Portfolio Pendidikan Anak maka para Orangtua akan jauh lebih mengenal anaknya, akan lebih memahami pola perkembangan dan pola potensi keunikan fitrah anak. Hal ini karena Portfolio akan memberikan rekam jejak, melalui pencatatan jurnal kegiatan atau dokumentasi jurnal kegiatan, disertai lampiran bukti bukti (evidence) produk atau karya, bisa dalam bentuk tulisan, audio, video, dll.

Jika anak kelak memilih jalur profesional, maka profesional sertifikat atau expert recommendation ikut dimasukkan dalam Portfolio. Banyak universitas atau perusahaan modern lebih membutuhkan Portfolio dibanding ijasah.

Tidak hanya itu, tetapi portfolio juga termasuk merekam refleksi Orangtua, Fasilitator, Maestro, Pendamping Sipritual, juga anak sendiri atas kesan, perasaan, fikiran yang dialami atas kegiatan atau proyek atau pemagangan yang dilakukan anak.

Dalam jangka panjang, akan terkumpul banyak portfolio, maka akan terlihat pola keunikan dan pola kebutuhan pengembangan anak yang disebut profile potensi dan pengembangan anak. Maka bisa dipilih porfolio mana yang paling mendekati pola kebutuhan pengembangan potensi anak sesuai profile potensinya itu sehingga kelak dapat disusun Personalized Curriculum yang lebh fokus dan terarah.

Jika anak bersekolah, maka sekolahpun akan terbantu dengan adanya Portfolio Pendidikan Anak yang dikembangkan oleh para orangtua maupun anaknya sendiri.

Manfaat dari sisi anak, tentu banyak, diantaranya adalah membantu anak bagaimana mereka melihat dirinya, mendorong tanggungjawab pada proses pendidikan serta keberanian untuk berfikir, merasa dan bertindak dengan cara yang lebih bermakna, mendorong intelectual curiosity, memfasilitasi self awareness dan discovery, mengekspresikan apa yang mereka ketahui, apa yang mereka passion untuk dilakukan dengan bermakna, unik, dengan cara yang lebih kreatif.

Sebagai catatan, ada pertanyaan, apakah anak usia 3-6 tahun dapat dilibatkan? Walau ada yang meragukan bahwa anak di usia 3-6 tahun sudah dapat diminta terlibat dalam mendokumentasikan kegiatannya termasuk memberikan refleksi atas kegiatan yang dilakukan, ternyata pada prakteknya mereka justru antusias membantu dan terlibat.

Berikut adalah Langkah Langkah membangun Portfolio Anak,

Langkah 1. Tuliskan Filosofi atau Konsep yang Diyakini

Banyak orang berfikir bahwa mendidik anak adalah masalah teknis semata. Lalu sibuk perihal teknis. Padahal banyak kasus dimana para orangtua bahkan pendidik yang disorientasi dan misorientasi dalam prakteknya, karena ketidak kokohan dalam fondasi filosofi atau konsep pendidikan anaknya.

Jadi hal terpenting pertama dalam menyusun Portfolio Pendidikan Anak adalah Philosophy atau Concept atau Narasi Besar yang menyatukan keseluruhan bangunan Portfolio Pendidikan Anak. Ini semacam fondasi dan asumsi. Tanpa adanya filosofi atau konsep maka akan sulit menstrukturkan bangunan portfolio pendidikan anak di atasnya.

Misalnya, mereka yang menganut paham Behaviorisme, dimana perilaku dan prestasi anak bisa dilejitkan dengan drilling, pengulangan, pembiasaan, reward n punishment, over stimulus, intervensi dll tentu akan berbeda dengan mereka menganut paham Esensialisme maupun Fitrah. Mereka yang menganut Deficit Based tentu berbeda dengan yang menganut Strengths based.

Filosofi ini kemudian dituliskan dalam “Portfolio Charter” (Piagam Portfolio), pada bagian “Philosophy/Concept Statement”, misalnya

“Saya meyakini bahwa setiap anak lahir dengan membawa fitrah fitrah yang baik, dan saya meyakini bahwa apabila semua aspek fitrah itu tumbuh dengan indah paripurna maka kelak anak saya akan memiliki peran peran terbaik sesuai aspek fitrahnya itu.

Secara keimanan, saya meyakini bahwa anak lahir telah membawa fitrah keimanan karena mereka telah bersaksi bahwa Allah adalah Maha Pencipta, Maha Pemberi Rezqi, Maha Memiliki dstnya sehingga tugas saya adalah menguatkan aspek fitrah ini dengan membangkitkan ghirah cinta mereka pada Allah, RasulNya dan Agamanya melalui keteladanan dan atmosfir keshalihan di rumah saya bersama keluarga.

Saya meyakini bahwa setiap anak adalah pembelajar sejati yang tangguh sejak lahir, mereka memiliki nature curiosity dalam belajar dan bernalar dstnya, maka tugas saya tidak banyak mengajarkan namun mengaktifasi dan membangkitkan gairah belajar mereka dengan idea idea belajar dan bernalar yang menantang serta inspirasi belajar yang hebat.

Saya meyakini setiap anak saya…..dstnya” .

Bisa juga ditambahkan dengan komitmen pada diri ayah atau bunda atau pendidik, misalnya

“Saya menyadari bahwa sesungguhnya Allahlah Pendidik Sejati bagi anak anak saya, maka saya ridha dan bertawakal atas semua ketentuan Allah, saya berdoa agar Allah membimbing saya, mengkaruniakan rasa syukur dan shabar, memberikan banyak hikmah kepada saya dalam mendidik anak anak saya. Untuk itu saya senantiasa melakukan Tazkiyatunnafs agar Allah berikan Qoulan Sadida, yaitu ucapan dan tutur yang berkesan mendalam, hati yang tenang dan penuh empati, idea yang bernas dan keren, sikap dan perilaku yang pantas diteladani…. dstnya”

Tanpa Filosofi atau Konsep maka kelak akan sulit mengintegrasikan keseluruhan bangunan Portfolio Pendidikan Anak

Langkah ke 2. Tuliskan Portfolio Plan (Perencanaan Portfolio)

Perencanaan meliputi Purpose, Type, Pihak Terlibat, Framework yang digunakan, Teknik Refleksi yang digunakan dstnya.

Langkah ke 2. Tuliskan Portfolio Plan (Perencanaan Portfolio)

Perencanaan meliputi Maksud (Purpose), Jenis (Type), Structure, Pihak Terlibat (Audience), Jangka Waktu (Timeframe), Standar/Framework yang digunakan, Evidence/Artefacts (bukti kegiatan), Teknik Refleksi yang digunakan, Major Learning, dstnya.

Sebagai catatan bahwa perencanaan Portfolio berbeda dengan merencanakan program pendidikan secara keseluruhan. Perencanaan portfolio adalah perencanaan dokumentasi dari pelaksanaan program pendidikan.

Dalam banyak hal perencanaan program pendidikan seperti personalized curriculum, pengembangan bakat dll diperoleh dari pembacaan atas pola unik anak dari rangkaian portfolio dalam jangka waktu tertentu.

Tahap perencanaan ini menyesuaikan kebutuhan dan keunikan keluarga dan anak masing masing termasuk juga kebutuhan Orangtua atau Pendidik. Hanya perlu dibuat di awal program untuk jangka waktu tertentu, misalnya 2 tahun atau 3 semester dsbnya.

Perencanaan Portfolio ini harus menjawab: Mengapa saya melakukan ini? (Purpose), Apa Tipe yang cocok untuk maksud tersebut? (Type), Bagaimana dan dimana saya menggunakannya (Context), Bagaimana komponen distrukturkan (Structure), Kepada siapa Portfolio ini diarahkan? (Audience), dstnya.

Secara umum, Maksud (Purpose) dari pembuatan Portfolio ada 4, yaitu
1. Untuk memfasilitasi Pertumbuhan anak (Developmental Portfolio). Portfolio ini berfokus tunggal pada salah satu aspek pertumbuhan anak. Anak anak special needs atau anak dengan keunikan khusus umumnya menggunakan Portfolio ini.
2. Untuk menyediakan Basis Evaluasi atau Persiapan Ujian (Assessment/Standard based Portfolio). Portfolio ini biasanya digunakan di sekolah karena harus memenuhi standar tertentu atau juga digunakan untuk persiapan ujian atau sertifikasi.
3. Untuk menyoroti kinerja dan kapabilitas anak (Showcase Portfolio). Portfolio ini sifatnya atau konteksnya sangat personal, dapat digunakan untuk memahami pola potensi anak atau untuk pengembangan bakat melalui beragam kegiatan maupun proyek.
4. Untuk merekam proses belajar anak dan konten pengetahuan yang dikuasai (Learning Portfolio). Portfolio ini bisa menggunakan standar, bisa pula freedom sesuai minat dan kebutuhan anak.

Tidak perlu khawatir dengan pilihan, karena kita bisa mengkombinasikan secara serial maupun paralel sesuai kebutuhan. Misalnya jika ingin fokus pada pengembangan bakat maka bisa dipilih Showcase Portfolio, namun pada tahun yang sama akan mengambil paket kesetaraan atau professional certificate maka Assessment Portfolio dapat digunakan pada saat yang sama. Begitupula bila punya target pengetahuan atau skill yang harus dikuasai pada tahun berikutnya maka secara paralel bisa menggunakan Learning Portfolio dstnya.

Berikut akan dibuat sebuah scenario Perencanaan Portfolio. Karena tujuan tulisan ini adalah untuk memandu orangtua kelak dalam merancang “Personalized Curriculum” dan diasumsikan tidak overlapping dengan Sekolah yang fokus pada Standar Curriculum, maka scenario perencanaan berikut yang dijadikan contoh adalah Showcase Portfolio .

Contoh Scenario Perencanaan Portfolio

1. Maksud: Untuk menyoroti kinerja dalam perkembangan aspek fitrah melalui beragam proyek atau kegiatan
2. Purpose Type: Showcase Portfolio
3. Context/Scope Type: Personal Portfolio (bukan Schoolwide Portfolio, bukan Academic Portfolio)
4. Structure: Rangkaian Proyek atau Kegiatan yang masing masing punya folder atau dokumentasi sendiri
5. Timeframe: 2 tahun
6. Standar Framework: Fitrah based Education version 7.0 (akan dijelaskan kemudian dalam contoh)
7. Major Subject to Achieved: 8 Aspects of Fitrah especially “Fitrah Bakat” and “Fitrah Keimanan”
Reflection: “Orangtua sering menekan saya untuk menambahkan lebih banyak akademik dalam program saya dan membuat stress. Saya menjadi frustasi sebab akademik bukan bakat saya…”
8. Audience: Orangtua, Maestro, Murobby, Rekan
9. Products/Artefacts/Evidence: Working Paper, Project Delivery, Lesson Learned, Project Evidence (Movie, Audio, Image)
10. Reflection Technic: Menggunakan Design Thinking atau Emisol atau Ediprot (Akan dibahas mendalam kemudian)
11. Timeline & Cost: Terlampir

Silahkan tambahkan point lainnya, seperti bagaimana mengatasi perubahan atas isu yang terjadi (corrective action), partner atau mitra yang terlibat, cara penyimpanan dokumen (hardcopy atau soft copy) dsbnya

Jangan ragu membuat perencanaan karena kita perlu untuk mengawali pembuatan Portfolo, jika ada perubahan bisa kapanpun dilakukan. Jika perencanaan selesai maka tiba saatnya untuk memulainya atau melanjutkan apa apa yang sudah dimulai namun dengan dokumentasi portfolio yang lebih baik dari sebelumnya.

Langkah 3.Membangun dan Mengorganisasi Portfolio

Selama kegiatan atau proyek atau program berlangsung maka kita mulai dapat mengkoleksi Evidence (Bukti bukti) dengan pengorganisasian yang baik. Apa yang dimaksud dengan Evidence? Bagaimana Mengorganisasikan Portofolio dengan baik termasuk pembuatan jurnal?

Langkah 3.

Membangun dan Mengorganisasi Portfolio

Selama kegiatan atau proyek atau program berlangsung maka kita mulai dapat mengkoleksi Evidence (Bukti bukti) dengan pengorganisasian yang baik. Apa yang dimaksud dengan Evidence? Bagaimana Mengorganisasikan Porttolio dengan baik termasuk pembuatan jurnal dsbnya?

Ingat bahwa perbedaan antarara standard based Portfolio di sekolah dengan Showcase Portfolio untuk orangtua adalah bahwa Standard based Portfolio atau Assessment Portfolio pada umumnya membandingkan capaian anak dengan standar atau dengan kemampuan anak lain sesuai standar. Ini banyak digunakan dalam sekolah formal yang masih berwacana prestasi akademis bukan wacana perkembangan fitrah anak.

Sementara Showcase Portfolio atau juga Learning Portfolio adalah membandingkan capaian anak pada sebuah kegiatan atau proyek dengan apa yang sudah dicapai oleh dirinya sendiri pada kegiatan sebelumnya berupa pengalaman, pengetahuan, keterampilan, sikap dll yang didapat.

Tentu dalam pendidikan yang berwacana perkembangan fitrah anak dimana tiap anak adalah manusia seutuhnya yang unik dan tidak bisa dibanding bandingkan dengan apapun maka portfolio tipe personal ini sangat sesuai.

A. Awali dengan Membuat Jurnal Kegiatan

Portfolio yang sistematis terutama yang bukan standard based, sesungguhnya baru bisa dibangun dan diorganisasi dengan baik jika pola perkembangan atau progres anak sudah nampak, biasamya di atas usia 7 tahun.

Sebelum membangun Portfolio maka sebaiknya dibuat dan dikoleksi dulu “Jurnal Kegiatan” sehingga cukup banyak dan dapat distrukturkan dalam portfolio yang lengkap.

Jadi tidak perlu sempurna untuk memulainya, mulailah dengan kegiatan yang sederhana namun seru dan berani (menurut kita), lalu dokumentasikan hasilnya dalam Jurnal Kegiatan, tentu dengan observasi dan pengamatan yang penuh empati. Makin empati makin bagus refleksinya untuk merencanakan improvement pada kegiatan berikutnya.

Dokumentasi atau Jurnal Kegiatan yang paling mudah tentu saja foto dan filmkan. Just Do It! Dokumentasi kegiatan itulah yang disebut Jurnal Kegiatan atau Jurnal Proyek sebagai bagian dari rangkaian kegiatan dalam sebuah Portfolio, dimana foto dan film nya adalah evidence atau bukti. Sebagai catatan, foto daln film ini mencakup karya anak atau produk anak dalam sebuah kegiatan.

Namun, jika selama ini lebih asik memfoto dan memfilmkan kegiatan anak namun “terlewat” memberi catatan catatan penting dalam kegiatam tsb, kini tambahkanlah dengan catatan catatan penting yang sebaiknya ada dalam sebuah portfolio. Catatan penting ini menjadi landasan untuk merancang pengalaman untuk kegiatan berikutnya.

Maka catatan catatan penting di dalam halaman sebuah Jurnal Kegiatan atau Jurnal Proyek setidaknya berisi

1. Profile Anak saat melakukan kegiatan
2. Deskripsi kegiatan
3. Tujuan kegiatan
4. Proses Kegiatan
5. Pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh (diskusikan dengan anak)
6. Aspek fitrah yang ditumbuhkan lebih baik dari kegiatan sebelumnya (diskusikan dengan anak)
7. Refleksi meliputi perasaan, fikiran atau tanda fisik antusias anak sebelum, ketika dan sesudah melakukannya (interview anak atau anak menuliskan sendiri)
8. Refleksi meliputi perasaan, fikiran atau tanda fisik antusias orangtua sebelum, ketika dan sesudah mendampingi kegiatan
9. Catatan dari orangtua maupun fasilitator untuk perbaikan penyelenggaraan kegiatan (perencanaan, safety, apa yang terlewat dll)
10. Usulan atau rencana rancangan kegiatan berikutnya, mana yang perlu diimprovisasi (diskusikan dengan anak)
11. Bukti (Evidence) berupa foto, film, karya, produk dstnya
12. Dstnya,

Silahkan berkreasi sesuai kebutuhan anak

Berikutnya simpanlah rangkaian Jurnal Kegiatan atau Journal Proyek ini dalam “folder” baik hardcopy atau softcopy/elektronis secara runut dan terstruktur

B. Bangun Portfolio Berdasarkan Koleksi Terpilih Jurnal Kegiatan

Ingat bahwa masing masing portfolio punya maksud (purpose) berbeda, namun punya tujuan sama yaitu assessment agar menjadi landasan bagi perancangan berikutnya bukan hanya sebagai arsip semata yang sekedar mudah dicari kembali. Authentic Assessment adalah yang terbaik karena melibatkan Orangtua, Anak dan juga Fasilitator atau Maestro (jika terlibat) dalam memberikan observasi dan refleksi atas progress perkembangan anak..

Karenanya Portfolio harus dapat disajikan sesuai maksud pembuatannya dan yang lebih penting adalah bahwa semua rangkaian kegiatan atau proyek berserta catatan penting dan evidence nya kelak harus dapat ditangkap pola keunikan anak sehingga pola itu dapat dijadikan landasan untuk merancang kegiatan/proyek berikutnya, membangun Portfolio yang tergonisir kemudian akhirnya untuk merancang personalized curriculum.

Bangunan Portfolio yang Sistematis meliputi

1. Portfolio Plan (sebagaimana dibahas pada langkah 2)
2. Profile Unik Anak hasil Observasi Emphaty dalam banyak Jurnal Kegiatan sebelumnya. Profile ini sebagai “based line” atau landasan untuk pengembangan atau improvisasi, karenanya harus berisi potensi exisiting meliputi aspek Talent, Attitude, Skill & Knowledge yang dikuasai termasuk semua aspek fitrah.
Pada akhir periode pembuatan Portfolio, maka Profile ini berisi update progress perkembangan yang akan menjadi “based line” bagi portfolio plan berikutnya.
3. Koleksi dari Jurnal Kegiatan atau Jurnal Proyek selama periode pembuatan Portfolio, tentu setiap jurnal beserta evidence dan hasil observasi dan refleksinya

Kemudian bagaimana teknik observasi atau refleksi yang baik?

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation
#portfoliofitrah
#portfolio

Jumat

Komunikasi Produktif#10

Komunikasi Produktif #9

"Apakabar emak? Sukses apa kemarin? Masih  seringkah terjadi kehebohan karena masalah komunikasi di dalam rumah? "

Pertanyaan ini terus terngiang-ngiang setiap kali mau tidur. Menjadi semacam muhasabah terhadap diri sendiri. Apa saja yang sudah berhasil saya taklukan dan mana saja yang masih harus banyak diperbaiki?

Selama hampir 15 hari menjalani game tantangan Komunikasi Produktif, harus saya akui masih banyak yang perlu terus Istiqomah diperbaiki. Beberapa kali saat tubuh sudah sangat letih dan anak2 tidak bisa bekerja sama, seringkali intonasi emak meninggi. Jika suami sedang di rumah, emak bisa ngadem sebentar dan urusan anak2 diserahkan ke Abinya. Tapi, jika suami masih di kantor, anak2 rewel semua, fisik saya pun lelah, maka jiwapun bisa ikutan lelah.

Berusaha dengan sangat agar emosi jiwa bisa stabil, dengan cara meningkatkan ruhiyah serta kepedulian dari suami. Dua hal ini sangat berbanding lurus dengan kestabilan emosi bagi saya. Jika ruhiyah saya menurun, emosi jiwa juga akan meletap meletup susah dikontrol. Begitu juga dengan keharmonisan dengan suami. Suami jadi tempat saya mencurahkan semua kata. Cukup menyediakan telinga dan bahu nya saja sudah membuat batin saya tenang.

Komunikasi Produktif#8

Sejak mulai mama didiagnosa Gagal Ginjal Kronis dan sudah harus mulai rutin cuci darah atau Hemodialisa (HD),sudah menjadi  aktivitas rutin kami mengantar mama ke Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) sebanyak 2 kali setiap Minggu, itu diluar jadwal kontrol ke SPPD dan ke BTKV, serta mengambil rujukan ke FTKP.

Dalam bulan ini saja sudah tidak terhitung berapa kali kami bolak balik ke rumah sakit. Lelah fisik pasti. Apalagi Setiap pergi ke RS pasti rombongan dengan 5 krucils yang semua masih Balita, dengan kehebohan yang pasti susah untuk diredam.  Walaupun sudah berulang kali disounding di rumah diwaktu-waktu ketika sedang tenang dan sesaat sebelum pergi, tetapi yang namanya anak2 pasti butuh bereksplorasi. Sangat tidak mungkin mengajak mereka untuk tenang berjam2 dalam satu waktu. 

Seperti hari Jumat kemarin, seperti biasa saya dan kakak mengantar mama kembali untuk HD di RSBK. Tak ketinggalan 5 krucils pasti ikut, karena tidak ada saudara/keluarga yang bisa menemani mereka dirumah. Beginilah resiko hidup dirantau yang jauh dari keluarga besar. Jadi mau tidak mau ke 5 krucils terpaksa kami bawa setelah di sounding berkali-kali seperti biasanya agar disana bisa bersikap tenang serta tidak menggangu kenyamanan orang lain dengan tingkah laku kita.

Alhamdulillah si Sulung sudah sangat bisa bekerja sama. Walaupun akhirnya, karena bosan dan lelah, dia juga tidak tahan hanya duduk diam saja. Apalagi bagi anak yang bertipe kinestetik seperti si sulung. Duduk tenang selama satu jam saja sudah prestasi, lha kalau selama 4 jam, piyekabare? Sebenarnya emak faham, gak mungkin memaksa mereka tidak membuat keributan. Lari-larian, kejar-kejaran, ketawa ketiwi tak terhindarkan juga akhirnya. Dan ini sukses membuat kami jadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, Rumah Sakit berubah menjadi Taman Bermain. Haha..

Awalnya emak masih mencoba mengatur intonasi suara. Mengajak mereka agar tidak 'terlalu' ribut. Tapi lama kelamaan, karena si Baby yang juga rewel, badan yang semakin lelah, sukses emosi dan intonasi emak tak terkontrol.
Dan ini sukses membuat si sulung sedih dan berkata " Ummi, kenapa gitu ngomong sama anaknya, ummi Marah2 sama anaknya". Hiks, emak kelepasan. Rasanya juga pengen nangis. Emak terlalu berharap berlebihan sama anak seusia mereka. Padahal jika emak jadi mereka, emak juga gak bakalan tenang duduk tenang hanya bisa mewarnai dan menggambar saja.

Maafkan ummi neuk, saat ini kita belum punya pilihan lain. Kita harus bersabar, sambil terus berdoa agar Allah berikan yang terbaik buat nenek. Kita sama-sama saling bantu ya neuk.

Komunikasi Produktif #7

Banyak yang nanya, "punya anak2 dengan usia berdekatan, kecil-kecil dan laki-laki semua lagi, rumah sering heboh gak mbak?"






Haha..dapat pertanyaan begini emak seringnya tersenyum penuh arti. Bukan sering lagi kalau ditanya heboh, tapi emang selalu heboh. 
Dirumah kami, rumah sepi dan tenang hanya saat malam hari ketika anak2 tidur saja.
Ada saja kehebohan yang mereka lakukan ketika dirumah. Selama itu tidak membahayakan dan mereka mau bertanggung jawab setelah melakukan kehebohan, silahkan saja. Emak gak bakalan ngelarang. Kecuali, kalau di tempat umum, emak bakalan negur jika mereka membuat kegaduhan jika itu bisa menganggu ketenangan dan kenyamanan orang lain. Misalnya di Mesjid, Rumah Sakit, Rumah makan, atau tempat umum lainya.

Kalau ditanya mereka lebih sering akur atau berantem? Sering mana ya?haha...kalau direnungi, sebenarnya mereka lebih sering akur daripada berantem. Mereka akan sangat kompak dalam melakukan projek bersama. Tetapi kalau udah berantem dan rebutan, rumah akan lebih heboh dari biasanya. Seperti hari ini , tiba2 Si Adek ngadu sambil setengah menangis ketika emak sedang nyusui Baby Hamzah, "Mi, abg gak  mau gantian naik ayunannya, Bla..Bla..bla."
Penyakit suka ngadu ini harus segera emak atasi. Ternyata selama ini emak salah bersikap ketika anak-anak mengadu tentang sesuatu hal  persoalan dengan saudaranya . Ketika satu pihak ngadu, emak langsung panggil yang bersangkutan untuk melakukan permintaan pelapor. Ini menjadi pemicu tumbuh suburnya karakter suka mengadu dalam diri anak karena mereka menangkap bahwa cukup dengan mengadu suatu persoalan bisa segera terselesaikan dengan cepat. Ini juga PR besar emak yang harus konsisten pelan-pelan di perbaiki.

Kali ini, Ketika mendapat pengaduan seperti itu, emak berusaha tidak segera merespon saat itu juga aduan anak jika memang tidak urgent. Emak cuma menjawab singkat, "Terimakasih sayang udah menyampaikan ke ummi , Ammar mau main ya?"
"Iya"
" Ammar udah sampaikan sama Abang baik2 belum? "
"Tapi, abg gak mau gantian"

"Iya, coba sampaikan baik2 sama abg, Ammar juga mau main".

Setelan mengajak si adek pelan2 dan akhirnya dia mau juga menyampaikan ke abg dengan baik2, ternyata si Abang mau tukaran.

Walaupun lebih melelahkan dibandingkan dengan emak yang langsung turun tangan menyuruh gantian, tapi mereka bisa belajar banyak dari sini. Belajar menyelesaikan masalahnya sendiri dulu, belajar menyampaikan keinginan dan gagasan kepada pihak lain, belajar Komunikasi Produktif agar tujuan dari komunikator tercapai dan dipahami oleh lawan bicaranya.

Bukan hal yang mudah memang merubah kebiasaan dan karakter yang sudah terbentuk, tapi tidak ada kata tidak mungkin. Konsistensi ini yang dituntut. Alhamdulillah Pelan tapi pasti bisa lebih baik dan semakin baik.

Selasa

Tantangan 5 Tahun pertama pernikahan


     Sejak dulu sebelum menikah saya suka takjub ketika melihat pasangan kakek nenek yang tetap mesra dan penuh kasih sayang diusia senja mereka walau bagaimanapun kondisi mereka. Mereka telah berhasil melewati tantangan demi tantangan ( setelah Belajar komunikasi produktif, berusaha mengganti ganti kata masalah dengan tantangan 😊) dalam kehidupan pernikahan mereka. Ditengah banyak pasangan muda yang usia pernikahannya masih seumur jagung tapi sudah harus berpisah (cerai) dengan berbagai alasan yang ternyata sangat sepele dan masih bisa diperbaiki jika mereka punya motivasi kuat untuk mempertahankan mahligai rumah tangga. Hal-hal seperti ini sangat membuat saya bersedih, apalagi jika pasangan muda itu adalah orang-orang saya kenal walaupun sepintas dan sudah memiliki anak. Saya membayangkan bagaimana nasib anak tersebut tumbuh dalam keluarga yang broken home. Pasti sangat tidak nyaman.

Beberapa kali saya dan suami mendapati curhat via Chat atau kedatangan pasangan muda yang sedang bermasalah dalam pernikahannya serta meminta pendapat solusi permasalahan mereka. Sebenarnya merasa tidak pantas karena ilmu kami yang masih sangat sedikit dan pengalaman pernikahan yang juga baru saja melewati usia 5 tahun. Tapi, karena rasa sedih melihat banyaknya mahligai rumah tangga yang baru dibangun kerap hancur dalam hitungan tahun bahkan bulan, membuat saya dan suami berusaha mengambil peran sekecil apapun yang kami mampu untuk membantu pasangan-pasangan muda agar mampu mempertahankan pernikahan mereka,minimal melewati tantangan 5 tahun pertama pernikahannya. Berbekal pengalaman melewati 5 tahun pertama pernikahan kami, saya ingin berbagi agar semakin banyak sahabat-sahabat yang juga mampu melewati tantangan tahun demi tahun dalam pernikahan mereka sehingga kita semua bisa sehidup sesurga bersama pasangan dunia akhirat kita πŸ˜‰
Aamiin 

Seperti beberapa waktu yang lalu, sore hari ketika sedang asyik bercengkrama dengan anak-anak, saya mendapat sebuah chat dari seorang ibu muda . Beliau curhat tentang suaminya yang begini begitu. Mendapati chat tersebut saya tidak bisa banyak berkomentar, karena tidak tahu duduk permasalahannya dan sudut pandang masing-masing dari suami atau istri. Saya hanya berpesan coba bangun komunikasi yang baik. Ajak suami ngobrol ketika waktunya lagi tenang dan emosinya stabil. 
Setelah berbalas chat panjang lebar, akhirnya siistri mau mencoba beberapa saran saya. 

Dua hari kemudian, masuk kembali chat dari ibu muda tersebut, mengabarkan bahwa dia udah Lelah. Dia mau cerai saja. Gak ada lagi solusi, bahkan udah 4 kali  dimediasi oleh beberapa orang yang dipercaya tidak ada hasilnya.  Saya tercekat, subhanallah, betapa mudahnya kata cerai terucap. Saya menyuruh si ibu untuk tenang dan banyak2 istighfar dulu. Khawatir siibu sedang panas dan hembusan syaitan semakin menjadi-jadi.
Saya sampaikan untuk mengajak sang suami bersama-sama mencari jalan keluar atau solusi permasalahannya. Akhirnya dia mau untuk silaturahim ke rumah dan mengajak suaminya malam itu juga. Alhamdulillah suami saya pun malam itu sedang dirumah. 

Mulai jam 9 malam hingga tengah malam suasana mediasi diwarnai adu pendapat dan saling debat. Bahkan ketika awal bicara, sang suami langsung pesimis karena mediasi seperti ini sudah dilakukan  sebanyak 4 kali.  Setelah mendengar cerita dari masing2 sudut pandang sang suami dan sang istri, saya dan suami tersenyum. Ternyata permasalahnya adalah hal-hal yang umum terjadi dimasa awal-awal pernikahan, dan tidak jauh berbeda dari yang kami pernah alami. Tetapi karena tidak ditangani sejak awal disebabkan kurangnya ilmu tentang berumah tangga sehingga semakin blunder dan mencapai puncaknya. 

Setelah disimpulkan permasalahan diawali karena masing-masing kurang memahami karakter pasangan, perbedaan karakter laki-laki dan perempuan, latar belakang keluarga istri yang secara finansial biasa hidup berkecukupan dan suami yang terbiasa sederhana. Ekspektasi sebelum menikah dan setelah menikah yang jauh berbeda serta campur tangan terlalu dalam pihak keluarga suami dalam urusan rumah tangga mereka. Alhamdulillah setelah diurai satu persatu dan dicari solusinya, menguatkan kembali tujuan awal pernikahan, mendengar harapan dari/ke masing2,  dan komitmen ke depannya masing2 sepakat untuk memperbaiki dari awal dan mau bersabar dengan proses.

Setelah kira-kira seminggu dari acara mediasi, kami coba menanyakan kabar mereka kembali, dengan tersenyum mereka menjawab baik dan sedang berproses semakin baik. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang Maha membolak-balik balikkan hati. Semoga ikatan pernikahan mereka dan kita semua berkekalan hingga ke surga. Aamiin




Banyak penelitian mengungkapkan bahwa 5 tahun awal pernikahan merupakan masa terberat dalam sebuah rumah tangga. Mengutip dari majalah Ummi, Inilah beberapa penyebab terbanyak : 

1. Sulit beradaptasi dengan pasangan
Kebiasaan-kebiasaan yang berbeda biasanya menjadi pemicu konflik di antara pasutri. Misalnya kebiasaan pasangan menaruh barang sembarangan, kebiasaan pasangan tidur mendengkur, menaruh botol kosong dalam kulkas, menghidupkan lampu di saat tidur, makan dengan cara berdecak dan berisik, bahkan hal sepele pun bisa menjadi sumber ketidaknyamanan di tahun awal pernikahan.

2. Masalah keuangan

Pasca pesta pernikahan, biasanya tabungan sudah menipis, bahkan ada juga yang perlu membayar utang, hal ini menyebabkan pasutri merasa stress dan sensitif. Kebanyakan uang merupakan penyebab pertikaian terbesar dalam rumah tangga.

Buatlah proritas keuangan dan perencanaan untuk mengurangi masalah ini. Pikirkan mengenai anggaran tiap bulannya, tabungan, tunjangan kesehatan, juga investasi untuk pendidikan anak.

3. Ekspetasi berlebih
Banyak yang merasa berat di awal pernikahan karena terlanjur memiliki ekspektasi berlebih sebelum menikah.
Bagi laki-laki, menikah berarti ada yang menyediakan makanan sebelum berangkat kerja dan setelah pulang kerja. Ada yang memberikan pijatan ketika lelah. Ada senyuman manis tiap kali bangun tidur dan sesaat sebelum tidur.
Bagi perempuan, menikah berarti ada yang memberi uang jajan tiap bulan. Ada teman yang mau mendengarkan segala curhat dan keluhan. Ada yang memuji segala yang dilakukan.
Ketika ekspektasi ini tidak terwujud, maka timbul kekecewaan, bahkan bisa jadi pertengkaran yang menyebabkan masalah dalam rumah tangga.

4. Sukar melepaskan gaya hidup lajang
Kebiasaan hang out bareng teman-teman, beli pernak-pernik lucu yang sebenarnya tidak penting, menghamburkan uang gaji untuk senang-senang, sulit move on dari gaya hidup semasa lajang tentu saja bisa menjadi salah satu penyebab seseorang merasa tahun awal pernikahan begitu berat.
Kecuali bagi mereka yang sudah terbiasa mandiri, menghadapi kerasnya kehidupan, biasanya pernikahan justru menjadi berkah luar biasa karena pintu rezeki seakan terbuka lebar.

5. Masalah Mertua dan ipar
Masalah mertua dan ipar juga menjadi faktor terasa beratnya kehidupan awal pernikahan. Tentu saja hal ini dapat diantisipasi dengan belajar menjadi menantu yang mampu merendahkan hati dan merebut hati mertua sejak sebelum pernikahan berlangsung. Masing-masing pihak suami dan istri juga harus bisa menjadi Public Relation untuk masing kelurga.

7. Masalah Seks
Setelah uang, masalah yang paling umum lainnya adalah seks. Oleh karena itu, bersikap terbuka dan mendiskusikan mengenai apa yang diinginkan baik oleh diri sendiri maupun pasangan dalam hal seks. Ketika kehidupan seks bahagia, makan kehidupan rumah tangga juga akan bahagia.


Demikian beberapa alasan mengapa 5 tahun awal pernikahan merupakan masa-masa terberat yang perlu dilalui para pasutri hingga mencapai kebahagiaan. Semoga bermanfaat

Tulisan ini saya buat dalam rangka arisan perdana Rumbel menulis IIP Batam yang dimenangkan oleh mb moniquefirsty21 dengan tema "Pengalaman terbaik yang menginspirasi". 


Komunikasi Produktif#6


"Ummi, Zaid boleh pangku Dede Hamzah gak?", Tiba2 si Abg bertanya

Emak kadang2 agak lebay dalam hal ini. Khawatir banget kalo di Baby yang baru 3 bulan ini kalo dipegang sama orang2 yang bukan ahlinya πŸ˜…, apalagi sama si sulung yang bahkan usianya belum genap 5 tahun ini. Huhu...

Seringnya emak bakal menolak dengan halus. Yang ternyata walau udah sehalus apapun penolakan emak, bakalan berujung kekecewaan dan kesedihan si Abg. 

Kali ini emak berusaha lebih empati. "Abang sayang ya sama Dede Hamzah, Boleh, tapi ummi bantu ya".

Dengan deg2an dan hati2,  emak mencoba meletakkan si Baby di pangkuan sang Abang. Senyum si Abang mengembang karena senang dipercaya bahwa dia bisa.

Mungkin dalam hati dia bersorak: "yeayy...saya bisa".

Walopun cuma sebentar karena si abg pegal diduduki si Baby yang BBnya melebihi 1/2 BB si Abg, tapi si abg cukup bahagia. 

4 Permainan Seru Mengisi Family Time Ala Ismoe Family

Sabtu dan Minggu adalah hari favorit yang selalu dinantikan anak-anak dan juga saya pastinya. Mulai senin, setiap hari mereka akan bertanya...